‘TENTANG AQIDAH, KEIMANAN SERTA UJIAN

Asy-haduanlaa ilaaha illallaah”.

Persaksian bahwa tiada Tuhan kecuali ALLAH,tiada Tuhan yang menghidupkan dan mematikan kecuali ALLAH,mematikan pada kiama kecil dan kiamat besar, kemudian menghidupkan dialam akhirat yang merupakan kehidupan langgeng tiada pupus dihati dan akal, semua berpusara pada الاالله .

   Artinya hati membukakan pintu pertama menciptakan kekuatan hati dan fikir lantaran Rahmat ALLAH.DIA meletakkan posisi hati dalam kaidah Islam dalam arti yang belum lengkap secara keseluruhan sebelum menancapkan persaksian kedua.

    “Wa asy hadu anna Muhammadurrasulullah”.

   Adalah ikatan kedua mendampingi hati,percaya dan yaqin bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan ALLAH Azza Wa Jalla.

    “AKU menjadikan segala sesuatu karena engkau wahai Muhammad,dan AKU jadikan engkau karena AKU.”(hadist Qudsy)

   “Kalau bukan karena engkau wahai Muhammad,tidaklah AKU menciptakan langit.”(Hadist Qudsy)

   Sekarang kita berdiri tegak diatas jalan yang kuat lagi murni,membawa satu i’tikad besar menuju arah yang telah disyari’atkan. Kita telah siap melakukan amal shaleh,sebab syarat pengesahan telah ditancapkan dalam hati seiring di ucapkannya dua Kalimah Suci لااله الاالله محمدرسول الله. Tinggal bagaimana taraf keteguhan dan Istiqomah seseorang,hal ini ditentukan kuat dan tidaknya,labil dan stabilnya iman yang mendasari. Salah satu dalam rukun iman yang sangat penting adalah “Iman terhadap Hari Akhir” ,sudahkah itu mendasar secara kuat dihati? Andaikata hal itu telah tertancap didasar hati, niscaya setiap detak nafas nadi dihiasi dengan amal shaleh,sebab ada satu pengertian kuat bahwa amal shaleh merupakan Mahar-nya meraih surga di alam akhirat sana. Dan kita tidak akan meletakkan mahar yang mewah kecuali sudab punya keyakinan bahwa dia itu milikku,punya rasa percaya, bahwa dia menjamin hidup kita langgeng menentramkan.

    Perihal tersebut membutuhkan proses yang tidak mudah, penuh tantangan dengan segala ujian. Yakni proses merakit kekuatan iman yang tangguh lagi kokoh.

   Sebab iman tidak hanya berkata,  saya telah beriman. Lalu dikatakan telah beriman. Tidak!

  • Pertama I’tiqod:  berasal dari bahasa Arab yang artinya ikatan. Artinya dihati seseorang telah ada ikatan khusus yang mentaktiki perjalanan hati,dimana ikatan tersebut meringankan hati berbuat shaleh. Layaknya tumpukan kayu I’tiqod itu yang mengikatnya tapi belum tahu seberapa ringan dan beratnya kayu tersebut,atau belum ditahu kemana tumpukan kayu tersebut akan di bawa. I’tiqod masih perlu penyelidikan dengan cara diuji dengan segala cobaan yang tak ringan.
  • Kedua Yaqin  :  akhirnya dengan segala daya dan cobaan kita mampu mengangkat dan membawa tumpukan kayu tersebut. Maka timbullah keyaqinan bahwa yang mengangkat dan membawanya adalah orang yang kuat, yakni kuat terhadap agama,sebab yaqin arahnya dan telah mampu menterjemahkan iman.

Dan keyakinan tidak muncul dengan sendirinya ,melainkan dengan I’tiqod. Ikatan itu akan semakin kuat, akan semakin rapi kalau kita mempelajari ilmu pengetahuan agama. Memperdalam Al Qur’an misalnya. Semakin banyak perbendaharan ilmu maka semakin kuatlah ikatan dan tumpukan itu tidak mudah terlepas. Semakin dalam mempelajari Ilmu Agama ,semakin banyak pula ikatan yang mengikat, dan menjadikan hati tidaklah mudah terjerumus.

   Sampai disini kita belumlah teruji,teruji oleh indahnya gemerlap dunia, teruji oleh percobaan, saingan dunia dan Ujian Kualitas hidup yang lain.

   Kalau kita dihadapkan dengan kerasnya ujian kualitas dan ternyata lulus,maka inilah yang baru disebut sebagai Iman. Yakni iman yang tersimpul erat dan telah terikat dihati. Maka Istiqomah-lah. Istiqomah inilah yang menjadi Mahar. Mahar ini tetap di berikan sekalipun banyak badai fitnah. “Semakin tinggi batang sebuah pohon maka semakin besar angin yang menerpanya”. Dengan keyakinan dan keimanan yang telah Istiqomah yakinlah bahwa kita mampu melewati dan mengalahkan segalanya.

Akhirul Kalam