Si Biru Terluka Lagi

Rencana balik ke Kota Makassar hari ini gagal total disebabkan motor vixion saya tiba-tiba mengalami kerusakan.
Awalnya saya berniat membawanya ke bengkel motor sahabat saya di Sinjai untuk mengganti balon lampunya yang putus.
Sampai di bengkel yang mekaniknya ini adalah sahabat saya angkat tangan tak mampu memperbaiki. Setelah sebelumnya mengganti dengan bahlom baru. Tapi arus listrik tak bisa mengalir sampai ke bahlom.
Dia pun segera menghubungi rekannya yang ahli dibidang kelistrikan motor.  Setelah mengecek semuanya ternyata arus listrik ke bahlom memang mati total. Dia berniat ingin mengecek ciprusnya. Tapi saya menolak sebab ciprusnya itu sudah 3 tahun lamanya tidak saya aktifkan. Karena bermasalah.!
   Akhirnya saya memutuskan agar vixion itu tetap dalam keadaan sebelumnya, tanpa lampu.
Untuk tidak mengurangi kekecawaan teman saya. Saya pun menawarinya untuk mengganti kampas cakram depan segaligus memperbaiki kopling cakramnya.
Setelah semuanya selesai(mengganti kampas cakram dan memperbaiki kopling cakram) saya meninggalkan bengkel.
   Belum 100M saya meninggalkan bengkel tersebut, lampu indikator vixion menyala. Sebagai peringatan ada yang tak beres dari si Vixion. Saya bergegas balik ke bengkel untuk komplain . Karena mendapat jawaban yang kurang memuaskan dari teman saya dan mekaniknya ,saya pun meninggalkan bengkel tersebut dengan perasaan kecewa dan menyesal. Vixion sebelumnya dalam keadaan normal minus lampunya yang tak berfungsi. Tapi kok setelah di cek dan ganti ini itu di bengkel justru tambah parah.
   Perjalanan ke Makassar pun masih tanda tanya besar. Sebab saya ragu bisa menjoki vixion ke jarak 180KM dalam keadaan lampu indikator menyala. Fatalnya sih motor bisa mati mendadak dijalan. Padahal kakak sudah menunggu saya senin besok untuk bisa masuk bekerja lagi.
Liburan ke Sinjai kali ini sedikit mengecewakan dengan bermasalahnya the blues vixion. 

Iklan
Kutipan | Posted on by | Tag , | 2 Komentar

Wasiat Buat Muslimah

Pada masa modern ini, pembicaraan tentang wanita adalah termasuk pembicaraan yang telah menyita banyak waktu semua orang, dari kalangan intelektual maupun dari kalangan awam. Betapa tidak, kaum wanita dengan kelemahlembutannya dapat melakukan hal-hal spektakuler yang dapat mengguncangkan dunia. Dengan kelemahlembutannya itu ia dapat melahirkan tokoh-tokoh besar yang dapat membangun dunia. Namun dengan kelemah-lembutannya pulalah ia dapat menjadi penghancur dunia yang paling potensial.

Untuk mengetahui bagaimana semestinya posisi kaum wanita yang tepat maka kita perlu mengetahui bagaimana posisi kaum wanita di kalangan generasi terdahulu sebelum datangnya Islam.

Siapapun yang mencoba mempelajari kondisi kaum wanita sebelum Islam maka ia temukan hanyalah sekumpulan fakta yang tidak menggembirakan. Ia akan terheran-heran menyaksikan kondisi kaum wanita yang sangat berbeda antara suatu bangsa dengan bangsa yang lain, bahkan antara satu suku dengan suku yang lain. Di suatu bangsa ia melihat kaum wanita menjadi penguasa tertinggi, sementara pada bangsa yang lain mereka manjadi makhluq yang terhina dan dianggap aib bahkan dikubur hidup-hidup.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman tentang ratu Saba’:

“Sesungguhnya aku (burung hud-hud) mendapati seorang ratu yang menguasai mereka dan ia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”
(QS.An-Naml: 23)

Sementara di belahan bumi lain, ALLAH menceritakan sisi yang berlawanan dari itu:

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh.”
(QS.At-Takwir: 8-9).

Itulah kondisi kaum wanita di masa jahiliyah; ibarat barang yang terhina dalam keluarga dan masyarakat, diperbudak oleh kaum pria. Hari kelahirannya adalah hari di mana semua wajah menjadi kecewa, dan tidak lama kemudian ia akan dikubur hidup-hidup dalam kubangan tanah yang digali oleh ayahnya sendiri. Inilah akibat dari jauhnya akal masyarakat dari cahaya wahyu. Inilah gambaran umat yang dilahirkan oleh berhalaisme dan dididik oleh para tukang sihir dan peramal.

Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata:
“bila engkau ingin melihat bagaimana kejahilan bangsa Arab terdahulu maka bacalah firman ALLAH Ta’ala:

“Sungguh merugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa ilmu.”
(QS.Al-An’am: 140)

Fahamlah kita bagaimana kejahiliyahan menenggelamkan masyarakat Arab saat itu ke dalam pojok-pojok kegelapan peradaban, hingga akhirnya terbitlah fajar Islam lalu terdengarlah di penjuru dunia untuk pertama kalinya:

”Dan para laki-laki beriman dan wanita yang beriman itu adalah wali (penolong) antara sebagian mereka kepada sebagaian yang lain.”
(QS.At-Taubah: 17).

Lalu bergaunglah firmanNya:

“Dan para wanita itu mempunyai hak dan keseimbangan dengan kewajiban mereka secara ma’ruf.”
(QS.Al-Baqarah: 228).

Dengan demikian Islam telah meletakkan dasar dan pondasi yang begitu kokoh untuk membangun pribadi wanita yang baru berdasarkan wahyu dari Dzat yang telah menciptakannya.

Dan pemuliaan Islam terhadap wanita tidak cukup sampai di sini, Islam bahkan telah menjadikan ibu sebagai orang yang lebih dihormati daripada seorang ayah.

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَبُرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبَاكَ. (رواه البخاري ومسلم).

Seorang pria bertanya:

“Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku berbakti?” Beliau menjawab: ”Ibumu” Ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” kemudian ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa ? beliau menjawab: “Ibumu” kemudian ia bertanya lagi “lalu kepada siapa ?” barulah beliau berkata: “ayahmu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Islam telah meletakkan jalinan yang kuat dan kokoh untuk menjaga kaum wanita. Bila mereka berpegang padanya mereka akan selamat, sebaliknya bila mereka menyia-nyiakannya maka mereka akan sesat dan binasa. Jalinan itu adalah sifat “Al-Hasymah” (bersikap malu) dan “Al-Afaf” (menjaga kesucian) yang kemudian memberikan konsekwensi agar seorang wanita mengenakan hijab syar’i, tetap berdiam di rumah, dan menghindari percampurbauran dengan kaum pria; yang semuanya itu menjadikannya ibarat sebuah permata bernilai tinggi di kedalaman lautan yang tidak di jamah kecuali orang yang berhak untuk itu.

Islam memandang bahwa percampurbauran antara pria dan wanita (ikhthilath) sebagai sebuah bahaya yang sangat nyata, oleh karena itu Islam mencegahnya dan menggantinya dengan mensyariatkan pernikahan.

Ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam telah mengetahui bagaimana nilai hijab syar’i dalam melindungi seorang muslimah, mereka juga faham perintah untuk “tinggal di rumah saja” memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menjaga wanita muslimah, dalam menjaga kesucian dan kemuliaannya. Oleh karena itu, kita dapat melihat bagaimana mereka memerangi hijab muslimah tanpa ampun. Suatu waktu mereka menyebutnya sebagai sebuah kedzaliman dan kejahatan atas wanita., atau sebagai penghalang yang merintangi berkembangnya dunia ketiga, atau dikali lain mereka menyebutnya sebagai budaya Arab saja. Seiring dengan itu, mereka juga mendorong para wanita muslimah untuk keluar dari rumah-rumah yang telah melindungi mereka dengan alasan persamaan hak dan derajat antara pria dan wanita. Dan yang masih saja hangat sampai hari ini adalah sebuah ide sekuler yang berhasil ditanamkan oleh musuh-musuh Islam kedalam otak sebagian kaum muslimin; yaitu ide melakukan perombakan terhadap fiqh Islam yang katanya hanya berpihak pada kaum pria, sehingga lahirlah ide “Fiqh Perempuan“.

Semua itu dilakukan oleh musuh-musuh Islam bukan karena mereka kasihan dan ingin menolong wanita muslimah atau karena cinta kepada kaum muslimin. Sekali-kali tidak, hal ini, karena kebencian yang terpendam dalam hati-hati mereka;

“Beginilah kalian, kalian mencintai mereka padahal mereka sama sekali tidak mencintai kalian.”
(QS.Ali-Imran:119)

Siapapun di dunia ini yang memiliki akal sehat akan dapat melihat permusuhan yang amat nyata dari kaum Yahudi dan Nashrani khususnya kepada umat Islam. Semuanya dapat melihat dengan jelas bagaimana mereka selalu menjadikan wanita muslimah sebagai sasaran mereka. Bukankah kaum Yahudi telah memancangkan permusuhannya terhadap hijab sejak mereka mengatur siasat untuk merobek hijab seorang muslimah dan menampakkan auratnya di pasar Bani Qainuqa’??!.Dan hingga kinipun, permusuhan itu tetap membara, sebab mereka mengetahui bahwa rusaknya kaum wanita pertanda rusaknya tatanan masyarakat.

Namun sangat disayangkan, entah berapa banyak dari kaum muslimin yang menyerahkan diri mereka kepada tipu-daya mereka. Entah berapa banyak dari kaum muslimin yang turut serta membantu mereka memerangi hijab syar’i ini. Mereka inilah para korban “brain washing” yang dilancarkan oleh kaum kafir dalam berbagai aspek kehidupan.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH!

Sesungguhnya istri-istri kita, saudari-saudari kita, dan putri-putri kita adalah bunga-bunga yang menghiasi taman kehidupan kita. Mereka adalah belahan hati kita semua. Namun hampir-hampir saja kita tidak lagi dapat merasakan keindahan bunga itu karena ada sebuah tiupan angin kencang yang sebentar lagi akan merenggutnya. Apakah anda sekalian mengetahui angin kencang apakah itu?.Ia adalah angin westernisasi yang mengajak mereka melepaskan hijabnya, yang mendorong mereka untuk bercampur baur dengan kaum pria dan membisiki mereka agar membuang rasa malu mereka untuk bercampur-baur dengan kaum. Angin kencang ini ditiupkan melalui lembaran-lembaran surat kabar dan majalah, melalui roman-roman percintaan, melalui siaran-siaran televisi dan radio atau media-media informasi lainnya .

Mereka telah mendorong kaum wanita mengubur sendiri dirinya hidup-hidup; bukan di dalam tanah, tetapi di dalam sifat ‘iffah mereka yang telah hilang, kedalam kehormatan mereka yang tercabik-cabik, dan kedalam kesucian mereka yang telah ternoda! lalu apakah gunanya hidup mereka setelah itu?

Mereka telah melakukan perbuatan yang lebih keji dari apa yang pernah terjadi di masa Jahiliyah dulu. Bagaimana anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dimasa itu akan mendapatkan Surga ALLAH, disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
اَلْمَوْؤُوْدَةُ فِي الْجَنَّةِ.

“Anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu di Surga.”

Namun di zaman ini, para wanita itulah yang mengubur dirinya sendiri hingga hilang rasa malu. Dan balasan untuk mereka pun begitu menakutkan!
Melalui tulisan dimedia,artikel-artikel blog dan media sosial lain sebagai sarana berdakwah ini pula, kami mengingatkan para pemudi Islam agar mereka tidak mendengarkan tipuan-tipuan musuh-musuh anda yang selalu menampakkan indahnya hidup bercampur baur dengan kaum pria atas nama kebebasan, kemajuan dan kemoderenan. Karena bagi mereka yang penting dari diri anda hanyalah kenikmatan dan kelezatan sesaat. Nasehat kami kepada Anda adalah bahwa kunci perbaikan itu ada di tangan Anda semua. Jika Anda ingin, Anda dapat memperbaiki diri sendiri. Dan kebaikan Anda juga berarti kebaikan bagi ummat ini.

“Dan tinggallah kalian (para wanita) di dalam rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya kaum jahiliyah pertama, dan tegakkanlah shalat, tuanaikanlah zakat, dan taatilah ALLAH beserta RasulNya.”
(QS.Al-Ahzab: 33).

Akhirnya, semoga wasiat ini dapat bermanfa’at dalam proses perbaikan terhadap ummat yang kian terpuruk ini. Semoga bagi kita sekalian dianugrahkan taufiq dan inayah untuk membangun kekuatan dan kejayaan ummat seperti sedia kala .
Aamiin Ya Rabbal ‘alaamiin

Semoga aura harumannya surga firdausi senantiasa dilimpahkanNYA kepada kita.

Sumber buku khutbah Jum’at 1 tahun 2007.

Kutipan | Posted on by | Tag , , , | 1 Komentar

My Trip Lillaahy Ta’alaa

image

My trip Lillaahy Ta'alaa, Hidup dan Matiku hanya kerana ALLAH

Apa anda fikir bahwa perjalanan kehidupan yang kita lalui tiap harinya itu selalu mulus dan adem ayem??
Okelah, bagi anda yang terlahir dari orang tua yang mapan bolehlah tak faham suka duka kehidupan. Kalo memang ada pastilah amat sedikit dan tidak terlalu membuatmu merasa frustasi apalagi putus asa karenanya.
  Tapi bagi kami yang terlahir dari keluarga yang nilainya “bahkan” dibawah nol harus susah payah bangkit dari semua duka kehidupan.
Belum lagi bangkit pun, kami harus menjalani frase-frase kehidupan yang lebih kejam lagi.

   Perjalanan kehidupan itu ibarat kita menuju Barat(Manipi) dari Kota Makassar melewati Kota Malino dengan jalan berkeloknya. Belumlah kita move on dari tikungan kanan,kita harus merebahkan motor dan badan lagi ke tikungan kiri. Belum memstabilkan kondisi badan yang condong kekiri kita harus kembali menikung kekanan,dan begitu seterusnya sampai membawa kita ke tujuan,Manipi!

  Tapi apapun kondisinya kami tidak pernah menampakkannya kepada dunia bahwa kami “telah menyerah” dengan semua ini, sebab kami yakin akan ada suatu hari nan indah yang telah menunggu kami didepan sana.

Sebab nama lain dari masa depan itu adalah berdo’a dan berusaha.!

Sahabatku semua irama dalam kehidupan ini adalah satu cobaan yang telah diatur oleh Sang Maha Kuasa..
Kaya,miskin, duka ,gembira,sakit dan sehat semua adalah cobaan. Dikembalikan semua kepada kita,apakah mengambil hikmah dari semua itu. Jika bahagia bersyukur dan bersedih harus ikhlas dan bersabar. Sederhana kan?

Sedangkan nafas yang kita tarik dan hembuskan itu saja adalah salah satu cobaan untuk mereka yang berfikir.(arung wahyu)

Kutipan | Posted on by | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

BARAT , AKU KEMBALI

Rindu yang membuatku kembali ke barat (yang saya maksud barat adalah kampung halaman ibu saya,Sinjai Barat). Adik saya yang berada di Sinjai Kota( Sinjai Utara) seorang perawat di RSUD Sinjai, menelfon saya. Ada sedikit “tugas” yang diberikan kepadaku.
   Sebenarnya tanpa dipanggilpun rencanaku memang balik untuk melepas rindu bersama mama, adik dan keponakan-keponakanku.
   Selepas Sholat Ashar , saya start dari kota Makassar menuju Barat.  Sebelumnya saya pamitan saya kakak bos travel yang masih saudara sepupu saya.
   Setelah menempuh perjalanan dua jam, menembus dinginnya Malino dengan deretan pohon pinusnya ,tepat adzan magrib tibalah saya di Barat(Manipi). Saya mampir dirumah paman saya, sholat magrib dan makan malam disana. Setelahnya saya lanjutkan perjalanan menuju rumah ibu saya. Rumah yang terbilang begitu sangat sederhana. Paman sebenarnya menyuruh saya untuk nginap dirumahnya, tapi pilihan tetap pada rumah ibu saya.
   Sepi memang, karena ibu dan ponakan saya hijrah ke Sinjai pagi tadi. Tak bermodal kunci rumah,saya masuk lewat loteng..
Bukan mau nyolong ya,, ini rumah ibu saya.
Saya ingat sekitar 3 tahun lalu saya pernah lompat dari atap rumah yang tingginya sekitar 4 meter itu.   Saat itu saya lagi memperbaiki seng rumah yang bocor. Masih diatas, tiba-tiba datang hujan deras. Saya mau turun tapi tangga tidak ada. Jadinya dan “sungguh terpaksa” (loh.. mirip lagunya bang Haji Rhoma Irama) saya langsung mempergunakan jurus gerak siluman untuk loncat kebawah. Syukur gak terluka.. haha.. pendekar ya bang….? 
    Setelah masuk kedalam rumah saya pun menyalakan lampu dan beristirahat sejenak. Tak lupa saya masuk kedalam gudang untuk “temu rindu” dengan gandiwa saya. Saya melihatnya bersandar di dinding rumah begitu gagahnya. Saya rindu sama gandiwa naga menyesal itu. Ingin merentangkannya lagi. Tapi saya kalah dengan rasa lelah. Segera ku dirikan sholat isya dan setelahnya saya pun tertidur.
Keesokan harinya sebelum saya lanjut ke Kota Sinjai, ku temui kembali gandiwaku. Ku cium gagangnya, lalu saya membawanya keluar kamar. Kurentang kedua sayapnya dengan cara menarik talinya. Terdengat suara “rrrrrrrrrreerrrr” tanda kedua sayap sudah melengkung ,siap ditembakkan tanpa anak panah.
   Gandiwa berbunyi angker ..
Vrasss..!
   Ku ulangi menarik talinya semakin kuat dari sebelumnya..
ttassss,, salah satu bagian tali putus. Semangatku sedikit turun melihat kenyataannya tali tersebut tak mampu mengimbangi kedua lengkungan sayap gandiwa.
   Menyesal telah menariknya terlalu keras, segara ku taruh kembali gandiwa tersebut dan kubenahi bekalku.
Kembali lewat Loteng itu,saya keluar dari rumah. Segera ku hampiri sibiru dan kupacu sampai kesinjai kota.
Satu jam kemudian sampailah saya dikota Sinjai, rumah adikku.

Perasaan capek dan lelah selama perjalanan sejak kemarin terbayar tuntas setelah disambut tawa gembira keponakan kembarku.

image

Gerbang Sinjai Kota

Kutipan | Posted on by | Tag , , , , | 2 Komentar

CANDA TAWA KITA SAMPAI KE SURGA

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“ALLAH menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat ALLAH?”
(QS.An Nahl   :  72)

Aku tak perlu lagi mencari kebahagian lain bila telah bersamamu. Sebab bila berdua denganmu akan dengan sendirinya kebahagiaan itu tercipta.
   Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta yang telah menyatukan kita dalam sebuah ikatan yang tak akan aku lepaskan selamanya.
   Segala puja dan puji bagiMU ya Rabb, ,, bahkan Engkau jadikan kebahagian dan canda tawa kami sebagai satu pahala yang akan mempertemukan kami kembali di surga.

Di sarankan suami-istri harus kompak dalam kehidupan rumah tangga sebab pahalanya itu luar biasa.
  Anda tahu tidak, jika tertawanya suami-istri itu ada pahalanya ketika saling menyenangkan antara satu dan lainnya. Coba,, indah sekali…
   Satu kali ketika istrinya dandang cantik luar biasa kemudian bertemu dengan suaminya yang tiba-tiba suaminya itu langsung melihat begitu.
    Kata istrinya :  sayang kamu kenapa?
Apa kata suaminya  :  saya bersyukur kepada ALLAH Azza wa Jalla telah dikaruniai istri secantik dirimu..
   Apa kata istrinya :   kita berdua di surga!
Suaminya bertanya   :   kenapa?
Istrinya kemudian berkata  :
Karena engkau bersyukur dengan keadaanku sekarang, dan aku telah bersabar dengan keadaanmu sekarang! 😁😁

Bukankah orang yang bersyukur dan bersabar itu kelak di surga?   😁
   

Canda itu begitu menyenangkan walaupun sedikit nyelekit, tapi karena penyampaiannya yang bagus maka enak kedengarannya.

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH”
(QS.Adz Dzariyaat   :49)

Kutipan | Posted on by | Tag , | Meninggalkan komentar

Anak Kita Dan Mutiara Yang Terpendam Didalamnya

ANAK ADALAH NIKMAT DARI ALLAH

Anugerah berupa keturunan adalah salah satu nikmat terbesar yang ALLAH berikan kepada manusia. Keinginan memiliki keturunan adalah bagian dari insting atau “gharizah” bawaan manusia. Oleh karena itu, hampir semua orang bercita-cita untuk memiliki keturunan.

Sejak lahir, anak sudah menjadi nikmat tersendiri. Di antara bentuknya, anak kecil yang imut sangat menyenangkan ketika dipandang. Bahkan orang kulit putih pun tetap merasakan kesenangan tersendiri ketika melihat anak kecil berkulit hitam.

AL QUR’AN SENDIRI MENYEBUT ANAK SEBAGAI PENYEJUK MATA.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Artinya:

“Dan orang orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai qurratu a’yun (penyejuk mata) kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS Al Furqan: 74)

Sebagaimana juga ucapan Asiyah istri Fir’aun kepada suaminya agar dia tidak membunuh bayi Nabi Musa:

قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ…

Artinya: “Dan istri Fir’aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati (qurratu ‘ain) bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari.”
(Al Qashash: 9)

ALLAH juga menyebut kenikmatan surga sebagai “qurratu a’yun”, bahasa yang sama ketika menyebut anak:

فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
Artinya:
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”
(QS As Sajdah: 17)

Dalam perspektif Islam, anak merupakan nikmat bukan hanya di dunia. Tapi akan dirasakan sebagai nikmat hingga kelak di akhirat. Anak adalah investasi. Orang tua akan terus mendapat aliran pahala dari do’a maupun amal-amal kebaikan mereka.

Termasuk anak yang wafat ketika masih kecil atau sebelum baligh. Anak tersebut kelak akan datang sebagai pemberi syafa’at bagi kedua orang tuanya pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  :

مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

“Tidaklah seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, yang belum baligh, kecuali ALLAH akan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat yang Allah berikan kepadanya.”
(HR. Bukhari 1248 dan Nasai 1884)

Kemudian, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  :

مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ ، أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang ditinggal mati tiga anaknya yang belum baligh, maka anak itu akan menjadi hijab (tameng) baginya dari neraka, atau dia akan masuk surga.”
(HR. Bukhari – bab 91)

Termasuk bayi keguguran, yang meninggal dalam kandungan,
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda  :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَىْ الجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan ari-arinya APABILA IBUNYA BERSABAR (atas musibah keguguran tersebut).”
(HR Ibnu Majah 1609 dan dihasankan al-Mundziri serta al-Albani)

ANAK ADALAH AMANAH

Anak adalah amanah yang tidak boleh dibiarkan dan disia-siakan. Sebagaimana handphone, uang, semua harta, ilmu, dan sebagainya yang ALLAH karuniakan kepada kita, pada hakikatnya adalah nikmat sekaligus amanah.

Menyia-nyiakannya adalah dosa, dan menyia-nyiakan anak dosanya jauh lebih besar. Pertanggung jawabannya di hari kiamat kelak akan jauh lebih berat.

Bukan hanya itu, bahkan dampaknya juga bisa dirasakan sejak masih di dunia. Betapa banyak orang tua yang menjadi sengsara di dunia, karena si anak tidak terdidik dan terbina dengan baik.

Ketika si anak sudah baligh maka dia menjadi mukallaf. Mukallaf artinya sudah terkena beban syari’at dan bertanggung jawab langsung kepada ALLAH. Namun bukan tanggung jawab orang tua lepas sepenuhnya terhadap sang anak. Anak kita tetap butuh bimbingan dan arahan.

AGAR ANAK TETAP MENJADI “NI’MAH” (NIKMAT) DAN BUKAN NIQMAH (BENCANA)

Dalam bahasa Arab, kata ni’mah dan niqmah hampir sama bunyinya. Namun memiliki arti yang jauh berbeda. Ni’mah artinya kenikmatan, sedangkan niqmah artinya bencana.

Ada 3 hal yang perlu diupayakan agar anak kita sebagai “ni’mah” dan tidak berubah menjadi “niqmah”. Pertama: kesadaran, kedua: pengetahuan, dan yang ketiga: konsistensi dan keseriusan.

1. Kesadaran
Orang tua harus sadar sepenuhnya bahwa anak adalah nikmat. Sadar bahwa anak adalah amanah. Anak adalah titipan dari ALLAH Azza wa Jalla yang kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban.

2. Pengetahuan (Ilmu)
Ilmu lah yang menjadi penuntun agar kita tidak salah jalan dalam mendidik anak. Orang tua harus terus belajar. Jangan hanya menyandarkan kepada sekolah.
Memulainya justru dari rumah, bukan dari sekolah.
Menambah ilmu dan wawasan bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun tetap perlu bimbingan. Harus punya “ustadz”. Harus ada gurunya.

3. Amalkan ilmu dengan serius dan konsisten.
Mulai dari hal-hal kecil dan bertahap. Banyak hal yang sudah kita ketahui ilmunya namun belum kita laksanakan.
Dengan mempraktekkan akan menambah ilmu, berkah dan keteguhan.
Sebagaimana firman ALLAH ta’ala dalam Al Qur’an:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Artinya: “Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, tentu hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka.”
(QS: An Nisa’: 66)

Dalam menanamkan nilai-nilai pada diri anak-anak kita, perlu proporsional dan bertahap. Contohnya kepada anak kita yang masih balita.

Apa yang paling penting untuk diajarkan? Ajarkan satu kata yang paling penting, yaitu nama ALLAH Azza wa Jalla. Perlu sering diulang agar kata ini melekat pada mereka. Dan sebaiknya mereka pertama kali mendengar dari kita sebagai orang tuanya.

Bisa juga memulai dari kalimat yang mengandung kata ALLAH seperti “bismillah”, “Alhamdulillah”, “allahumma”, dsb. Maka orang tua harus sering-sering menyebut nama ALLAH. Saat bersin, berdo’a, salam, dsb. Selanjutnya kenalkan dengan lafazh “Laa ilaha illallah”. Meskipun mereka belum mengetahui maknanya.

Anak-anak kita memiliki daya rekam yang luar biasa. Terkadang hal ini baru ketahuan nanti pada saat mereka dapat berbicara. Seorang anak yang rajin mendengarkan Al Qur’an akan lebih cepat menghafal. Ini bukan hanya pada anak yang normal tapi juga pada anak yang cacat.

Contoh yang sangat nyata adalah yang terjadi pada ananda Fajar. Oleh orang tuanya diperdengarkan Al Qur’an selama 24 jam. Sejak masih di inkubator. Subhaananllah, ketika usia sekitar 5 tahun baru ketahuan bahwa anak ini punya potensi menghafal al Qur’an. Saat berusia 10 tahun ananda Fajar sudah hafal lengkap 30 juz dengan hafalan yang sangat kuat.

Selain itu, anak butuh contoh yang bisa dilihat. Butuh keteladanan dari orang tuanya sendiri. Bukan sekedar arahan dan nasehat yang bersifat verbal.

UTAMAKAN KELEMBUTAN, BARU KETEGASAN

Pendidikan dan pembinaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam selalu diawali dengan kelembutan. Bahkan Nabi Nuh pun tetap lemah lembut terhadap anaknya yang durhaka. Beliau memanggil anaknya dengan sapaan yang paling halus yaitu “yaa bunayya”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha (yang artinya):
“Wahai Aisyah, berlemah lembutlah! Sesungguhnya apabila ALLAH menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, Dia akan menunjuki mereka kepada pintu kelembutan.”
(HR. Ahmad: 23591)

Dan dalam suatu riwayat disebutkan (yang artinya):
“Jika ALLAH menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan ke dalam hati mereka.”
(HR. Ahmad: 23290)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya):
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.”
(HR. Muslim: 4698)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berlaku lembut kepada anak sendiri maupun anak-anak kaum muslimin. Beliau sendiri contohkan ketika menegur anak kecil yang sedang berada dalam jamuan makan. Seperti lazimnya anak-anak, terkadang ambil sana-ambil sini. Beliau menegur dengan sangat halus:
يا غلام، سمِّ اللهَ، وكُلْ بيمينك، وكُلْ مما يليك

“Wahai anakku, ucapkanlah bismillah, makan dengan tangan kananmu, dan ambillah dari yang dekat denganmu.”

Sebetulnya tujuan utamanya adalah agar anak tersebut tidak ambil dari sana-sini. Namun beliau awali dengan panggilan yang sangat lembut “yaa ghulaam”, kemudian mengingatkan tentang baca bismillah. Beliau tidak langsung ‘to the point’.

Adapun ketegasan, maka harus tetap ada, tapi tidak mengurangi kelemah lembutan. Ketegasan bukan berarti dengan kekerasan. Sampaikan nilai-nilai dan konsekuensi-konsekuensi dalam memahamkan anak kita. Kita sebagai orang tua yang justru sering tidak sabar memberikan pengertian kepada anak kita.

Pada level dan kondisi tertentu ketegasan bisa dengan memberikan punishment. Contohnya pada anak yang berusia 10 tahun terkait perintah sholat. Ini sesuai arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

.”مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع”

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”
(hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

[Disampaikan oleh Uztad Zaitun Razmin dengan judul blog Anak Kita Mutiara Terpendam di Masjid PT. Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII) Jakarta pada kajian zhuhur. Rabu, 28 September 2017]

Berikanlah nama yang baik untuk anak anak anda dan jelaskan kepadanya. Sebab sebuah nama merupakan do’a baginya yang selalu menemani disetiap langkahnya”.

(Karena keterbatasan dan kemampuan saya masih sangat dangkal dalam menterjemahkan serta menjabarkan pembahasan seputar “anak” , maka kajian Uztad Zaitun Razmin adalah solusi yang sangat tepat!)

Semoga bermanfaat

image

Imam Ahmad Faudzul Khabir(pemimpin dari sifat yang terpuji, suci nan agung)

image

Zafran Habibul Haqqi(Jaya dalam kebenaran yang dicintai ALLAH)

image

Zayyan Habibul Ahya(cemerlang dalam kehidupan yang dicintai ALLAH)

Kutipan | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Saya Terima NIKAHNYA

image

Editor gambar by arung wahyu

Assalamu’alaykum Warahmatullahi wa baarakatuh

Segala puja dan puji hanya kita panjatkan Kepada ALLAH Azza wa Jalla yang hingga saat ini masih memberikan kita salah satu nikmat terbesarNya, yakni nikmat kesehatan sehingga kita masih dapat bersua ditempat yang sangat sederhana ini.
   Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Rasullullah Muhammad Saw, suri tauladan kita di sepanjang masa.

Dipertemuan kali ini saya hanya menjabarkan sedikit ilmu yang didapat dari tausyiah Uztad Adi Hidayat,Lc,MM tentang pernikahan.

Timbul pertanyaan,,
“Lho bang,, blognya kok kebanyakan membahas tentang suami,istri dan pernikahan? Apa abang sudah menikah?  
Jawabannya;   Alhamdulillah, belum!

Ada lagi pertanyaannya: kalo belum nikah, kenapa abang tahu soal-soal itu?
Jawaban :  kan banyak membaca,mendengarkan nasihat dan ceramah uztad, apalagi semua ilmu yang menyangkut segala aspek dan kehidupan didunia sampai akhirat nanti, sudah lengkap dalam Al Qur’an dan dijelaskan secara terperinci dalam Al Hadist.. Mau lanjut nih pembahasannya atau tidak??

Kita tinggalkan sejenak pembicaraan yang tak seperlunya diatas,  kita langsung ke topik ..😊

Dalam Al Qur’an ,ALLAH Ta Baarakah wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar. Ruum :  21)

Setiap orang yang saling mencintai akan berharap bahwa hubungan mereka dipersatukan oleh ALLAH hingga ke jenjang pernikahan. Ada banyak alasan pasangan itu untuk menikah, salah satunya adalah melaksanakan Sunnah Nabi.
  Namun tidak semua orang melakukan pernikahan dengan alasan tersebut. Ada diantara mereka yang menikah dengan tujuan mendapatkan harta atau kenikmatan dari pasangan saja.
   Sebagai kaum muslimin ada baiknya kita mengetahui apa tujuan dari sebuah perintah dan anjuran ALLAH dan RasulNYA.
ALLAH berfirman dalam Al Qur’an  :

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada ALLAH dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh ALLAH ; sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” .
(QS. At Taubah :71)
   
    Setelah mengetahui ada baiknya untuk menjalankan amalan tersebut agar mendapat keridhaan ALLAH Azza wa Jalla..

“Bagi kalian ALLAH menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.”
(QS. An Nahl :72).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, ALLAH-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya.”
(QS. An-Nur : 32)

   So,, apa rencana anda bersama dia dimasa depan? Semua sudah jelas penjabarannya dalam Al Qur’an..

Jadi kalau saat ini ada seorang yang telah berumah tangga,
“Maaf!”
Belasan tahun,puluhan tahun tidak menjadikannya lebih dekat dengan ALLAH Azza wa Jalla,maka ada yang salah dalam rumah tangganya. Ada yang keliru, kalau sebelum menikah rajin ke masjid,setelah menikah putus ke masjid.
Ada yang sebelumnya menikah pakai hijab, setelah menikah tiba-tiba hijab dilepas. Ada yang salah dan keliru dalam rumah tangganya!
   Karena mustahil kedua orang ini disatukan oleh ALLAH kecuali hanya untuk membangun kedekatan dirinya dengan ALLAH. Kalo sudah dekat dengan ALLAH maka yang lain-lainnya akan mengikuti.

Jadi prinsip pertamanya adalah ketika anda telah mengucapkan “saya terima nikahnya..” Dan ketika perempuan telah menerima pinangannya  yaitu keduanya mesti menyusun rencana bagaimana kedepannya menyusun sebuah rumah tangga yang menjadikan semua aktivitasnya lebih dekat dengan ALLAH.

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata:
“Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ اْلإِيْمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِى.

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada ALLAH dalam memelihara yang separuhnya lagi.”

Wallahu’alam

Semoga bermanfaat khususnya kepada pribadiku. Jika ada kekurangan dari tausyiah diatas maka itu datangnya dari diriku dan
Jika ada kebenaran dalam tausyiah singkat di atas maka yakinlah itu berasal dari kebenaran ALLAH Azza wa Jalla.

Salam santun

Kutipan | Posted on by | Tag , , , | 2 Komentar