AL QUR’AN KARIEM

Segala puji bagi ALLAH, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hamba-NYA, Maha suci ALLAH, DIA-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain ALLAH dan bahwa Muhammad adalah hamba-NYA dan Rasul-NYA, yang diutus dengan kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dengan izin-NYA, dan cahaya penerang bagi umatnya. Ya ALLAH,curahkan sholawat dan salam bagi nya dan keluarganya, yaitu doa dan keselamatan yang berlimpah.
{ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘْﻠُﻮﻥَ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﺳِﺮًّﺍ ﻭَﻋَﻠَﺎﻧِﻴَﺔً ﻳَﺮْﺟُﻮﻥَ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓً ﻟَﻦْ ﺗَﺒُﻮﺭَ ‏( 29 ‏) ﻟِﻴُﻮَﻓِّﻴَﻬُﻢْ ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻢْ ﻭَﻳَﺰِﻳﺪَﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺷَﻜُﻮﺭٌ ‏( 30 )}

“ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab ALLAH dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar ALLAH menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-NYA. Sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Sumpah ALLAH Subhaanahu wa Ta’aala terhadap keagungan Al Qur’an, dan bahwa ia turun dari Rabbul ‘alamin dan penjelasan terhadap hal yang akan menimpa manusia ketika sakratul maut.
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (٧٧) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (٧٨) لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ (٧٩)تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٨٠) أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ (٨١)وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ (٨٢) فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (٨٣) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (٨٤) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ (٨٥)فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ (٨٦) تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٨٧)

Surat Al Waqiah Ayat 77-87

77. dan (ini) sesungguhnya Al Quran yang sangat mulia,

78. dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh) ¹

79. tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. ²

80. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.³

81. Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al Qur’an)?⁴

82. ⁵Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya.⁶.

83. Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika nyawa telah sampai di kerongkongan,

84. dan kamu ketika itu melihat,

85. dan Kami lebih dekat kepadanya⁷ daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,

86. maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah)⁸,

87. kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu)⁹ jika kamu orang yang benar?¹⁰

ALLAH Azza wa Jalla bersumpah dengan bintang dan mawaaqi’, yakni jatuhnya di tempat tenggelamnya dan apa yang ALLAH adakan pada waktu itu berupa kejadian-kejadian yang menunjukkan kebesaran-NYA, keagungan-NYA dan keesaan-NYA. Dan pada ayat selanjutnya, Dia perbesar perkara sumpah ini. Sumpah ini dipandang besar karena pada bintang dan peredarannya serta jatuhnya di tempat tenggelamnya terdapat ayat-ayat dan pelajaran yang tidak dapat dijumlahkan. Sedangkan isi sumpahnya adalah mengukuhkan Al Qur’an, dan bahwa dia adalah benar tanpa ada keraguan lagi. Demikian pula bahwa Al Qur’an adalah bacaan yang mulia, yang banyak kebaikan dan pengetahuannya. Bahkan setiap kebaikan dan ilmu diambil dan digali darinya.
¹Yakni tertutup dari penglihatan makhluk, yaitu Lauh Mahfuzh. Maksudnya, Al Qur’an ini tertulis dalam Lauh Mahfuzh, dimuliakan di sisi ALLAH dan di sisi para malaikat-NYA. Bisa juga maksud ‘kitab yang terpelihara’ adalah kitab yang berada di tangan-tangan para malaikat, dimana ALLAH menurunkan mereka dengan membawa wahyu-NYA. Sedangkan maksud ‘terpelihara’ adalah tertutup dari setan, dimana mereka tidak sanggup merubahnya, mengurangi dan mencurinya.

²Yakni tidak ada yang menyentuh Al Qur’an selain hamba-hamba yang disucikan, yaitu para malaikat yang yang mulia, dimana ALLAH Azza wa Jalla menyucikan mereka dari dosa-dosa dan cacat. Menurut sebagian ulama, ayat ini mengingatkan, bahwa tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci. Oleh karena itu, ada yang berpendapat, bahwa ayat ini meskipun bentuknya berita, namun terdapat larangan, yaitu tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.

³Maksudnya, Al Qur’an yang telah disebutkan sifatnya itu turun dari ALLAH Tuhan Yang Mengurus seluruh alam; Dia mengurus hamba-hamba-NYA dengan nikmat-nikmat dunia dan agama, dimana di antara kepengurusan-NYA kepada mereka yang paling besarnya adalah dengan menurunkan Al Qur’an ini yang di dalamnya terdapat petunjuk bagi mereka agar mereka dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini menunjukkan, bahwa ALLAH Tabaarokah wa Ta’aala setelah menciptakan mereka, maka DIA tidak membiarkan mereka begitu saja, bahkan tetap mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-NYA baik nikmat dunia berupa rezeki maupun nikmat agama berupa petunjuk. Dengan Al Qur’an ALLAH berikan rahmat kepada hamba-hamba-NYA yang mereka tidak sanggup untuk mensyukurinya. Oleh karena itu, mereka harus menjunjung tinggi isi Al Qur’an, mengamalkannya dan mendakwahkannya.

⁴Maksudnya, apakah terhadap kitab yang agung dan peringatan yang bijaksana ini kamu meremehkan; kamu menyembunyikannya karena takut kepada manusia, takut celaan dan cercaan mereka? Ini tidaklah pantas. Yang pantas diremehkan adalah berita yang tidak dapat dipercaya orang yang menceritakannya. Adapun Al Qur’anul Karim, maka ia adalah kebenaran, dimana tidak ada yang melawannya kecuali ia akan kalah. Oleh karena itu, ia layak untuk diberitakan dan disampaikan secara terang-terangan.

⁵Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Orang-orang mendapat siraman hujan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Pada pagi hari ini di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kufur.” Mereka (yang bersyukur) berkata, “Ini adalah rahmat (dari ALLAH).” Sebagian mereka (yang kufur) berkata, “Sungguh, bintang ini dan itu telah benar.” Maka turunlah ayat ini, “Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sampai ayat, “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari ALLAH) justru untuk mendustakan-NYA.”

Imam Nawawi berkata, “Syaikh Abu ‘Amr rahimahullah, yakni Ibnu Shalaah berkata, “Bukanlah maksudnya, bahwa semua ayat ini turun berkenaan ucapan ‘benar bintang ini dan itu’, karena perkara tentang itu dan tafsirnya tidak menghendaki demikian, bahkan hanya turun berkenaan firman ALLAH Ta’ala, “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari ALLAH) justru untuk mendustakan-Nya.” (Terj. Al Waaqi’ah: 82) Selebihnya turun tidak berkenaan dengan itu, akan tetapi bersamaan waktu turunnya sehingga disebutkan semuanya karena sebab itu.” Syaikh Abu ‘Amr rahimahullah juga berkata, “Di antara hal yang menunjukkan demikian adalah bahwa pada sebagian riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang hal ini terbatas pada bagian ini (ayat 82) saja.”

⁶Yaitu karena menyandarkan turunnya hujan kepada bintang ini dan itu, padahal hujan turun karena karunia ALLAH dan rahmat-NYA. Hal ini sama saja mendustakan dan mengkufuri nikmat ALLAH karena menyandarkan nikmat kepada selain yang memberinya. Oleh karena itu, mengapa kamu tidak bersyukur kepada ALLAH atas ihsan-NYA kepada kamu karena telah menurunkan kepadamu karunia-NYA, padahal sikap kufur dan mendustakan dapat mencabut nikmat itu dan menggantinya dengan azab.

⁷Yakni dengan ilmu Kami dan malaikat Kami.

⁸Bisa juga diartikan, “Maka mengapa jika kamu memang tidak akan diberi balasan,”

⁹Ke dalam jasad.

¹⁰Ketika itu, kamu di antara dua pilihan; membenarkan apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tetap membangkang setelah mengetahui kebenarannya dan kamu akan memperoleh tempat kembali yang buruk.

Iklan