Oktober Cepatlah Berlalu

Subuh terakhir itu, di akhir salam, setelah engkau berdo’a, engkau berbalik dan segera kusambut tanganmu, seperti biasa, setiap selesai Shalat berjamaah ku salami dan kucium sebagai isyarat kepatuhanku kepadamu.

Tak lama kemudian,masih dalam posisi yang sama, engkau meletakkan telapak tangan kananmu ke bahu kananku. Entah apa yang hendak engkau lakukan? tapi saya merasa bahwa ,saya akan kehilangan sesuatu yang sangat penting ,yang sangat berarti dalam hidupku. Seakan faham apa yang ada dalam fikiranku, engkau pun berkata:

“Enda, anakku, ,, diantara tiga anakku yang laki-laki, kamu memang yang termuda. Tapi  kamulah yang paling bagus agama-nya. Disaat saya sudah tiada, kamu teruskanlah perjuanganku. Jadilah seorang Imam dan pemimpin yang baik. Saya titip ke tiga adik perempuanmu. Didiklah mereka sebaik-baiknya.”

Inilah amanah yang begitu berat yang dipikulkan kepundakku. Saya seperti menjadi anak tertua dari enam bersaudara. Beban yang begitu berat,, dan mengingkarinya adalah kemunafikan. Sesaat kupandang wajahmu yang selalu segar dengan balutan bekas air wudhu, pandangan teduh mata sayumu memancarkan kesedihan. Aku terlarut dalam isak tangisku.

Aku seorang laki-laki ,tak boleh menangis,, tidak boleh menangis  😞.. inilah amanah, inilah tugas dan kewajiban Lillaahita’alaa.

Siang hari,  18 Maret 2000,saat mobil bis yang akan membawamu ke pelabuhan akan berangkat, setelah ibu dengan berat hati melepasmu, dan ketiga adikku menangis walau mereka sebenarnya belum tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi,  saya masih sempat melihat tatapan teduh mata sayumu untuk terakhir kalinya.

Saya cuma enam bulan disana. Sabarlah menunggu, Wahai ibu Iwan jagalah anak-anakmu.

Itulah janjimu kepada kami hanya enam bulan.

Beberapa bulan setelah keberangkatanmu ke Malaysia, Ira adik kedua saya ,masih duduk dibangku kelas dua SD melingkari kalender 20 Oktober sebagai hari dimana engkau akan kembali. Kembali bersama kami keluargamu,istri dan anak-anakmu.

“Ibu, ibu,, ayah akan pulang tanggal 20 Oktober bukan? Begitu janji ayah kepada saya, mau bawakan saya oleh-oleh dari Malaysia, mau belikan saya boneka bersama Acca dan Kak Bia, makanya saya beri lingkaran merah dikalendernya.”

Dipenghujung Oktober tahun itu, si manusia bejat yang membawamu ke Malaysia kembali ke Sinjai. Dia mengatakan kepada Ibu bahwa disana engkau baik-baik saja dan punya pekerjaan bagus. Yang semuanya itu hanyalah dusta,bohong dan penipuan. Saya tidak tahu bagaimana caranya menyumpahinya dengan kata-kata yang kasar. Manusia bejat itu, semoga ALLAH memberinya ganjaran yang setimpal!

Akhir November 2000, 3 hari sebelum Hari Raya ‘Idul Fitri, Kakak saya yang ikut bersamamu akhirnya kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat mengenaskan..

Melihatnya datang ,Ibu bertanya:   “mana abba-mu? (mana ayahmu,nak?) . Tapi tanpa menjawab dengan kata,hanya mengangkat tas pakaianmu sebagai jawaban,  fahamlah Ibu bahwa engkau tak akan kembali lagi kepada kami..

20 Oktober hari dimana engkau kembali,  bukan kepada kami tapi kembali kepada Sang Khalik yang lebih mengasihimu daripada kami.

Innalillahi Wa Inna Ilayhi Roojiun

17 tahun berlalu setelah kepergianmu, hingga kini bulan Oktober, kami sebenarnya tidak membencinya.  Sebab membenci apa yang ALLAH telah tetapkan adalah kemungkaran, tapi ada hubungan yang emosional yang setiap datangnya, kami berharap Oktober selalu cepat berlalu.

“Ayah, meski keimanan dalam dadaku kadang mengalami pasang surut yang membuatku kadang menangis jika surutnya begitu drastis, tapi amanahmu tetap kupegang teguh. Berbahagialah ayah di Sisi-Nya, kelak diakhirat bersama Ibuku akan kupakaikan kalian jubah dan mahkota indah yang terbuat dari cahaya sebagai hadiah dari Rabb untukku kerana telah mendidikku hingga seperti ini.

Walau tak banyak kebersamaan yang aku ukir dengan ayah tapi setelah engkau pergi hampir disetiap waktu namamu selalu terselip dalam do’aku.

Sekiranya bukan pukulan kayumu yang selalu melingkar apabila saya tidak Shalat dan Ngaji dimasa itu,entahlah apa saya sanggup menjalankan amanahmu hingga saat ini.

Tentang Sayyid Istighfar

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s