NO PAIN NO GAIN

image

Tidak pernah mengalami kesusahan, tak akan pernah merasakan betapa manisnya buah dari perjuangan

Kehidupan ini hanya sesaat lalu sirna, pergi dan enyah entah ke mana.
Yang pada akhirnya penilaian ALLAH bukan semata pada mereka yang telah berada dalam zona nyaman tapi diutamakan pada mereka yang memulai membina diri dari merangkak bersusah payah, terseok-seok hingga mencapai puncak dan menikmati manisnya perjuangan.

Ada kafilah yang berlalu menjelang malam
jalan berdebu dan malam merambat kelam
mereka menggiring hasrat menyatu dengan bumi
perjalanan pun tenggelam di balik ambisi
bintang malam menuntun yang mereka harapkan
yang menggantung di atas bintang dan kenikmatan
dalam pemeliharaan yang tidak didapat orang lain
tak peduli celaan orang yang suka melontar celaan

Orang-orang yang seperti itu akan selalu memenuhi seruan Sang Kekasih, tatkala di kumandangkan adzan kepada mereka, hayya alassholah (mari kita shalat) : Dalam kondisi apapun, baik sedang terbaring sakit, bekerja sampai lelah, tertidur sangat lelap, dijalan saat berkendara.

Hentikan segala aktifitas!
Yang terbaring sakit pun tetap mendirikan shalat sebagaimana mestinya. Yang bekerja menghentikan bagaimanapun pentingnya pekerjaannya, yang tertidur segera terbangun bagaimanapun pulasnya. Dan berkendara pun tetap harus mendirikan shalat dengan keadaannya. Semua datang memenuhi seruan-Nya.

Hayya alal-falah (mari menuju kemenangan). Semua yang kita tinggalkan demi perintahnya akan berbuah kemenangan, semua yang awalnya menghalangi jika terlewati akan berbuah kejayaan.

Rela mengorbankan segala,rela mengorbankan jiwa untuk mendapatkan keridhaan-Nya dengan sepenuh hati dan terus-menerus melanjutkan perjalanan untuk mencapai-Nya, pagi maupun petang. Jika tujuan perjalanan itu sudah tercapai, mereka menyampaikan pujian.
Mereka berpayah-payah sebentar dan istirahat untuk jangka waktu yang lama. Mereka meninggalkan yang hina dan mendapatkan ganti besar. Mereka abaikan kenikmatan dunia namun mendapatkan kesudahan yang terpuji. Mereka melihat suatu perbuatan yang bodoh jika harus menjual kehidupan yang baik dan abadi dengan kenikmatan sesaat, yang sirna bersama sirnanya nafsu, namun penderitaannya abadi.

Kalaupun kenikmatan itu bisa direguk manusia sejak awal usianya hingga menutup mata, toh kenikmatan itu tak ubahnya awan yang tampak sebentar, lalu enyah entah kemana. Pun seperti pelangi, hanya sesaat memperlihatkan keindahannya sebelum jejaknya terhapus juga oleh senja.

Bersakit-sakit dahulu, Redha ALLAH kemudian

image

Ilustrasi seorang mujahid terluka oleh panah, by:Arung Wahyu

Sehubungan dengan hal diatas, Ibu bercerita kepada saya bahwa pernah disuatu hari beliau bertanya kepada seorang Guru SMA . Guru ini juga yang pernah mengajari saya Ilmu Kimia saat masih diSMA dulu.

Ibu bertanya, “Pak kenapa anda begitu rajin ke masjid? Tidak memperdulikan pagi dan petang, tidak memperdulikan saat malam,jalan gelap tanpa satu penerang pun, tidak mempedulikan betapa dinginnya subuh yang menusuk kulit dan tak mempedulikan derasnya hujan sekalipun. Anda selalu tampil lebih awal, menyeru orang kepada kebenaran? Walau keadaan masjid selalu sepi.
Dengan ringan beliau menjawab secara sederhana, ” lebih baik saya menyiksa diri saya didunia sebelum ALLAH sendiri yang menyiksa saya dineraka karena mengingkari perintah-Nya.”

Ibu terkagum mendengarnya, dan menceritakannya kembali kepada saya.

Wallahu’alam

ALLAH Azza wa Jallaย  berfirman :

โ€œMaka bagaimanakah pendapat kaIian jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka? Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.โ€
(QS.Asy-Syu’ara: 205 -207).

Umar bin Al-Khaththab berpantun dengan sebait syair ini:

Seakan-akan engkau tiada gundah meski sekali
Jika engkau tahu apa yang sedang dicari.

Iklan

Tentang Arung Wahyu

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s