Di Hadapan Siapa Wanita Harus Menutup Wajahnya

image

Dalam suatu forum Lajnah Daimah Lil Ifta’ pernah ditanya  : ” Dihadapan siapa wanita diwajibkan memakai hijab?”

Jawaban: 
Diwajibkan menutup wajah dihadapan lelaki asing,yaitu lelaki yang bukan termasuk mahram bagi wanita itu menurut salah satu pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, baik lelaki tersebut adalah sepupu,tetangga atau lainnya, berdasarkan pada firman ALLAH Azza wa Jalla yang ditujukan pada kaum muslimin pada zaman Nabi Saw dan kaum yang datang setelah mereka  :

“Apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada mereka(istri-istri Nabi), maka mintalah dibelakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) disisi ALLAH.”
(QS.Al Ahzab: 53)

Ayat ini mencakup istri Nabi Saw dan wanita mukminah lainnya, sebagaimana yang difirmankan ALLAH Azza wa Jalla  :

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:  hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Ahzab:  59)

Yang dimaksud dengan jilbab adalah sesuatu kain yang menutupi kepala dan badan,diatas pakaian luar, yang menutup seluruh kepala,badan dan wajah wanita. Sementara yang hanya menutupi kepala disebut khimar.  Maka hendaknya wanita memakai jilbab yang menutupi kepala,wajah dan seluruh badannya,diatas pakaian luarnya,sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
ALLAH Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada ALLAH, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(QS. An Nuur  : 31)

Firmannya  إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ditafsirkan oleh Ibnu Mas’ud dan para jama’ah dengan pakaian luar. Sebagaian yang lain menafsirkannya dengan wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat pertama lebih shahih karena lebih sesuai dengan dalil-dalil yang lebih syar’i dan kedua ayat tersebut diatas. Sementara pendapat yang mengatakan bahwa artinya adalah wajah dan kedua telapak tangan, ada sebagian ahli ilmu yang menyebutkan bahwa pendapat ini berlaku sebelum turun kewajiban hijab, karena pada mulanya wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya dihadapan para lelaki, kemudian turun ayat hijab yang melarang mereka yang melarang menampakkannya dan yang mewajibkan menutup wajah dan kedua telapak tangannya disegala kondisi.
Lanjutan ayat tersebut وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِن (dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka) lafadz khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang artinya penutup kepada dan sekitarnya. Disebut khimar karena fungsinya menutupi apa yang ada dibawahnya,sebagaimana minuman keras(arak) disebut khamr karena menutupi akal dan merubahnya.
Sementara arti جيب adalah lubang pakaian -tempat kepala masuk-jika khimar dipakaikan ke atas kepala dan wajah maka lubang tersebut tertutupi. Demikian semua yang ada disekitar dada.

Ayat selanjutnya  وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ hingga akhir ayat, yang dimaksud dengan zinah, menyangkut wajah dan anggota tubuh. Dengan demikian artinya wanita diwajibkan menutupi seluruh zinahnya,sehingga tidak terkena gangguan atau menyebarkan(bencana). Hal tersebut diperkuat oleh riwayat dalam kitab shahihain dari Aisyah Ra, ia berkata,  “ketika saya mendengar suara Shofwan Bib Mu’aththil, maka saya segera menutupi wajahku dan sesungguhnya ia pernah melihatku sebelum turunnya ayat hijab.”

Dari sini kita fahami bahwa para wanita setelah turunnya ayat hijab diwajibkan menutup wajah, dan bahwasanya inilah hijab yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini  :

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi) ,maka mintalah dari belakang tabir.
(Qs. Al Ahzab: 53)

Sedangkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah Ra bahwasanya Nabi Saw telah bersabda kepada Asma Binti Abu Bakar Ra:

“Apabila wanita telah mencapai usia dewasa, tidak boleh tampak daripadanya kecuali ini dan ini,” . Beliau menunjuk pada wajah dan kedua tangannya.

Namun hadist  ini lemah, tidak layak diangkat sebagai dalil.

Namun bila hadist ini shahih,bisa dijelaskan bahwa hadist ini diucapkan sebelum turunnya ayat hijab.

Semoga ALLAH Azza wa Jalla memberikan kita Taufik dan petunjuk kejalan yang benar.

Tentang Sayyid Istighfar

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Fatwa-Fatwa Wanita dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Di Hadapan Siapa Wanita Harus Menutup Wajahnya

  1. Alice berkata:

    You must not quit https://alice3927.wordpress.com/2017/10/23/you-must-not-quit/ … visit please

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s