Cahaya Di Atas Cahaya

image

Berbagi Ilmu tidak ada ruginya, bahkan akan mengalirkan pahala bagi kita. Ketika ilmu yang kita sebarkan diikuti orang lain, ilmu kita tidak akan berkurang justru bertambah berkahnya.
Maka dari itu marilah kita giat dan saling membantu menebarkan ilmu dan kebenaran, sebab semua ilmu dan kebenaran itu sumbernya dari ALLAH Azza wa Jalla.
    
   “Sampaikanlah kebenaran walaupun cuma satu ayat”.(Rasulullah Saw)

Sabda Rasulullah:
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim no. 1893).

۞ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“ALLAH (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya ALLAH, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), ALLAH membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan ALLAH memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS.An Nur  : 35)

    Beberapa tahun silam selagi saya masih gencar-gencar memperdalam ilmu hikmah, ibu telah berpesan kepada saya bahwa puncak tertinggi dari penghayatan ilmu hikmah yaitu dengan pengamalan “Surah Cahaya” tepat pada ayat ke 35(Nurun ‘ala Nurin). Beliaupun dengan tak segan-segan menuturkan beberapa khasiat disaat menjadikan ayat ini sebagai wirid dan amalan kita sehari-hari. Dari dasar pengetahuan ibu, saya pun mengamalka “ayat cahaya” ini dan mendapatkan beberapa macam faedah.
Diantaranya:

1. Dapat di jadikan penerang hati. Jika kita memiliki anak ataupun keponakan yang bebal bacakanlah “ayat cahaya” tersebut kesegelas air berharap Rahmat ALLAH agar membukakan fikiran dan hati anak tersebut supaya gampang menyimak pelajaran.
2. Bisa dijadikan do’a sebelum tidur dan bangun tidur dan berharap kepada ALLAH agar senantiasa melindungi kita disepanjang waktu dengan “cahaya”.
3. Dapat menjadikan hati kita menjadi terang dan bersih sehingga in sha Allah dengan mudah mendapat pancaran-pancaran Nur Ilahy yang lain.(wallahu’alam)
4. Dapat membuat hafalan Qur’an kita dapat nyantol dengan mudah dengan sering mengamalkan ayat ini.

    Dengan pemahaman ini saya pernah mengalahkan seorang sepuh yang mengakui dirinya telah belajar ilmu tertinggi,  hingga akhirnya mengakui kekalahannya dan mengikhlaskan  anaknya berguru kepada saya.
Adapun beberapa khasiat diatas kita tak bisa mendapatkannya dari dalil yang sahih, tapi in sha Allah kebenarannya tidak perlu diragukan, sebab semua ilmu berasal dari ALLAH Tabaarokah wa Ta’ala.

Selain dari penghayatan pribadi saya tentang khasiat “ayat cahaya” tersebut maka dari beberapa sumber saya menjabarkan Tafzir ayat ini.

Tafsir Jalalayn :

(ALLAH cahaya langit dan bumi) yakni pemberi cahaya langit dan bumi dengan matahari disaat siang dan bulan disaat malam.

(Perumpamaan cahaya ALLAH) sifat cahaya ALLAH di dalam qalbu orang Mukmin (adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca) yang dinamakan lampu lentera atau Qandil.
  Yang dimaksud Al Mishbah adalah lampu atau sumbu yang dinyalakan. Sedangkan Al Misykaat artinya sebuah lubang yang tidak tembus. Sedangkan pengertian pelita di dalam kaca, maksudnya lampu tersebut berada di dalamnya (kaca itu seakan-akan) cahaya yang terpancar darinya (bintang yang bercahaya seperti mutiara) kalau dibaca Diriyyun atau Duriyyun berarti berasal dari kata Ad Dar’u yang artinya menolak atau menyingkirkan, dikatakan demikian karena dapat mengusir kegelapan, maksudnya bercahaya.
  Jika dibaca Durriyyun dengan mentasydidkan huruf Ra, berarti mutiara, maksudnya cahayanya seperti mutiara (yang dinyalakan) kalau dibaca Tawaqqada dalam bentuk Fi’il Madhi, artinya lampu itu menyala.
   Menurut suatu qiraat dibaca dalam bentuk Fi’il Mudhari’ yaitu Tuuqidu, menurut qiraat lainnya dibaca Yuuqadu, dan menurut qiraat yang lainnya lagi dapat dibaca Tuuqadu, artinya kaca itu seolah-olah dinyalakan (dengan) minyak (dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan pula tidak di sebelah Barat) akan tetapi tumbuh di antara keduanya, sehingga tidak terkena panas atau dingin yang dapat merusaknya (yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api) mengingat jernihnya minyak itu.
    (Cahaya) yang disebabkannya (di atas cahaya) api dari pelita itu.
    Makna yang dimaksud dengan cahaya ALLAH adalah petunjuk-Nya kepada orang Mukmin, maksudnya hal itu adalah cahaya di atas cahaya iman (ALLAH membimbing kepada cahaya-Nya) yaitu kepada agama Islam (siapa yang Dia kehendaki, dan ALLAH memperbuat) yakni menjelaskan (perumpamaan-perumpamaan bagi manusia) supaya dapat dicerna oleh pemahaman mereka, kemudian supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya, sehingga mereka mau beriman (dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ialah membuat perumpamaan-perumpamaan ini.

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas tentang firman ALLAH:
“ALLAH (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi,” yakni, ALLAH pemberi petunjuk bagi penduduk langit dan bumi. Ibnu Juraij berkata, Mujahid dan ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata tentang firman ALLAH : ALLAH (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.’ Yaitu, yang mengatur urusan di langit dan di bumi, mengatur bintang-bintang, matahari, dan bulan.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Anas bin Malik , ia berkata: “Sesungguhnya ALLAH berfirman: ‘Cahaya-Ku adalah petunjuk.’” Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman ALLAH : “ALLAH(Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya.” Yaitu, orang Mukmin yang ALLAH resapkan keimanan dan al-Qur-an ke dalam dadanya. Lalu ALLAH me­nyebut­kan permisalan tentangnya, ALLAH berfirman: “ALLAH (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi,” ALLAH memulai dengan menyebutkan cahaya-Nya, kemudian menyebutkan cahaya orang Mukmin: “Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya.” Ubay membacanya: “Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya,” yaitu seorang Mukmin yang ALLAH resapkan keimanan dan al-Qur-an ke dalam dadanya.  Demikianlah diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair dan Qais bin Sa’ad dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa beliau membacanya: “Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada ALLAH.”

Sebagian qari’ membacanya: “ALLAH Penerang langit dan bumi.” Adh-Dhahhak membacanya: “ALLAH yang menerangi langit dan bumi.” Dalam menafsirkan ayat ini, as-Suddi berkata: “Dengan cahaya-Nya langit dan bumi menjadi terang benderang.”
Dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas , ia berkata: “Apabila Rasulullah bangun di tengah malam, beliau berdo’a: “Ya ALLAH, segala puji bagi-Mu, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Yang Mengatur langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya.” (Al-Hadits).

Firman ALLAH : “Perumpamaan cahaya-Nya,” ada dua pendapat berkaitan dengan dhamir (kata ganti orang ketiga) dalam ayat ini: Dhamir tersebut kembali kepada ALLAH, yakni perumpamaan petunjuk-Nya dalam hati seorang Mukmin seperti misykaah (lubang yang tak tembus). Demikian dikatakan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas . Dhamir tersebut kembali kepada orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam konteks kalimat, yakni perumpamaan cahaya seorang Mukmin yang ada dalam hatinya seperti misykaah. Hati seorang Mukmin disamakan dengan fitrahnya, yaitu hidayah dan cahaya al-Qur-an yang diterimanya yang sesuai dengan fitrahnya. Seperti disebutkan dalam ayat lain: “Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (al-Qur-an) dari Rabbnya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah.” (QS. Huud: 17).

ALLAH menyamakan kemurnian hati seorang Mukmin dengan lentera dari kaca yang tipis dan mengkilat, menyamakan hidayah al-Qur-an dan syari’at yang dimintanya dengan minyak zaitun yang bagus lagi jernih, bercahaya dan tegak, tidak kotor dan tidak bengkok.
Firman ALLAH : “Seperti sebuah lubang yang tak tembus,” Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Muhammad bin Ka’ab, dan lainnya mengatakan: “Misykaah adalah tempat sumbu pada lampu, itulah makna yang paling masyhur.” Firman ALLAH : “Yang di dalamnya ada pelita besar,” yaitu cahaya yang terdapat di dalam lentera. Ubay bin Ka’ab mengatakan: “Mishbaah adalah cahaya, yaitu al-Qur-an dan iman yang terdapat dalam dada seorang Mukmin.”

Firman ALLAH : “Pelita itu di dalam kaca,” cahaya tersebut memancar dalam kaca yang bening. Ubay bin Ka’ab dan para ulama lainnya mengatakan: “Maksudnya adalah perumpamaan hati seorang Mukmin.” Firman ALLAH : “(Dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara,” sebagian qari membacanya tanpa hamzah di akhir kata, yakni seakan-akan bintang seperti mutiara. Sebagian lainnya membaca dan atau dengan kasrah dan dhammah huruf daal dan dengan hamzah, diambil dari kaartinya lontaran. Karena bintang apabila dilontarkan akan lebih bercahaya daripada kondisi-kondisi lainnya. Bangsa Arab menyebut bintang-bintang yang tidak diketahui namanya dengan sebutan . Ubay bin Ka’ab mengatakan: “Yakni bintang-bintang yang bercahaya.”

Firman ALLAH : “Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,” yaitu berasal dari minyak zaitun, pohon yang penuh berkah, yakni pohon zaitun. Dalam kalimat, kedudukan kata adalah badal atau ‘athaf bayan. Firman ALLAH : Yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),” tempat tumbuhnya bukan di sebelah timur hingga tidak terkena sinar matahari di awal siang dan bukan pula di sebelah barat hingga tertutupi bayangan sebelum matahari terbenam, namun letaknya di tengah, terus disinari matahari sejak pagi sampai sore. Sehingga minyak yang dihasilkannya jernih, sedang dan bercahaya.

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman ALLAH : “Pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),” beliau berkata: “Yakni pohon zaitun yang hijau dan segar yang tidak terkena sinar matahari, bagaimanapun kondisinya, baik ketika matahari terbit maupun matahari terbenam.” Beliau melanjutkan: “Demikianlah seorang Mukmin yang terpelihara dari fitnah-fitnah. Adakalanya ia tertimpa fitnah, namun ALLAH meneguhkannya, ia selalu berada dalam empat keadaan berikut: Jika berkata ia jujur, jika menghukum ia berlaku adil, jika diberi cobaan ia bersabar dan jika diberi, ia bersyukur. Keadaannya di antara manusia lainnya seperti seorang yang hidup berjalan di tengah-tengah kubur orang-orang yang sudah mati. Zaid bin Aslam mengatakan: “Maksud firman ALLAH: ‘Tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),’ yaitu negeri Syam.”

Firman ALLAH : “(Yaitu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api,”“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),” al-‘Aufi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas , bahwa maksudnya adalah iman seorang hamba dan amalnya. Ubay bin Ka’ab berkata tentang firman ALLAH : ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Yakni, disebabkan kilauan minyak yang ber­cahaya.

Firman ALLAH :
“Cahaya di atas cahaya,” yakni tidak lepas dari lima cahaya, perkataannya adalah cahaya, amalnya adalah cahaya, tempat masuknya adalah cahaya, tempat keluarnya adalah cahaya, tempat kembalinya adalah cahaya pada hari Kiamat, yakni Surga.

As-Suddi mengatakan: “Maksudnya adalah, cahaya api dan cahaya minyak, apabila bersatu akan bersinar, keduanya tidak akan bersinar dengan sendirinya jika tidak berpasangan. Demikian pula cahaya al-Qur-an dan cahaya iman manakala bersatu, tidak akan bercahaya kecuali bila keduanya ber­satu.”

Firman ALLAH : “ALLAH membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,” ALLAH membimbing kepada hidayah bagi siapa yang Dia kehendaki, seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Amr , bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ALLAH menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian ALLAH memberi cahaya-Nya kepada mereka. Barang siapa mendapat cahaya-Nya pada saat itu, berarti ia telah mendapat petunjuk dan barang siapa tidak mendapatkannya berarti ia telah sesat. Oleh karena itu, aku katakan: ‘Al-Qur-an (penulis takdir) dari ilmu ALLAH telah kering.’”

Firman ALLAH : “Dan ALLAH mem­perbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan ALLAH Maha mengetahui segala sesuatu.” Setelah menyebutkan perumpamaan cahaya-Nya dan hidayah-Nya dalam hati seorang Mukmin, ALLAH menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Dan ALLAH memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan ALLAH Maha mengetahui segala sesuatu.” Yaitu, Dia Maha mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan.

Cahaya di atas cahaya

Begitulah cahaya fitrah di atas cahaya wahyu. Begitulah keadaan orang yang memiliki hati yang hidup dan sadar.
Orang yang keadaannya seperti ini dapat menyatukan hatinya dengan makna-makna Al Qur’an, lalu mendapatkannya seakan-akan yang demikian itu tertulis di dalamnya, lalu dia tinggal membacanya tanpa harus melihat.

Sementara di antara manusia yang lain ada yang tidak memiliki kesiapan yang sempurna, di dalam hatinya tidak ada kesadaran dan kesempurnaan hidup. Sehingga dia membutuhkan keberadaan orang lain yang menjelaskan yang haq dan yang batil kepadanya. Kehidupan hatinya, cahayanya dan kejernihan fitrahnya tidak mencapai tingkatan orang yang pertama. Untuk mendapatkan hidayah, dia harus mengosongkan pendengarannya tatkala mendengar suatu perkataan, harus mengosongkan hatinya, agar dia dapat merenungi dan memikirkan serta menalar makna-maknanya. Dengan cara ini dia baru bisa mengetahui bahwa apa yang didengarnya itu adalah benar.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Tentang Arung Wahyu

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di CAHAYA DI ATAS CAHAYA, Inspiratif dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Cahaya Di Atas Cahaya

  1. Kurnia Bagus H. berkata:

    Maaf..hanya sekedar berbagi..Cahaya diatas Cahaya adalah perumpamaan tewrhadap diri kita.
    Cahaya yang pertama adalah Cahaya Rasulullah yaitu akhlak yang mulia..Cahaya yang kedua atau Cahaya yang di atasnya adalah Cahaya Allah yaitu kesadaran diri..
    Apabila Allah telah menanamkan Cahaya Nya di dalam diri maka akan membuah kesadaran yang menjadikan sang diri akan berbuat sesuai atau mendekati akhlak Rasul.
    Banyak penafsiran yang ada..tapi hasilnya belum tentu jelas dari kenyataan..padahal Alqur’an (kitab) diturunkan sebagai sebagai penuntun untuk di.dipraktekan, dibuktikan, dinyatakan oleh Alqur’an (manusia dan alam semesta) agar terjadi sinkronisasi didalam kehidupan.
    Janganlah keluar dari sang diri..kenalilah sang diri..maka dirimu akan mendapatkan Cahaya Nya.
    Salam..

    Disukai oleh 1 orang

    • Arung Wahyu berkata:

      Kalo penafsiran saya adalah hasil pengalaman/penerapan pribadi saya saudara,,
      Tapi kalo penafsiran yg lain itu adalah hasil penafsiran ulama2 besar terdahulu, in shaa Allah tidak diragukan lagi nasad keilmuannya.
      Tentang “sang diri” inshaa Allah,meski sudah tidak terlalu mendalamix ,tapi setidaknya ada sedikit yang saya fahami.

      Senang sekali atas kunjungan anda. 😊 . Saya memang lagi menunggu komentar yang membahas tentang hal ini, saya senang bertukar pendapat, darisana saya bs memungut ilmu lagi. 😊

      Suka

  2. Ahmad Fatoni berkata:

    Tapi bagus juga

    Disukai oleh 1 orang

  3. My Surya berkata:

    Iya, sama-sama. 🙂 Terima kasih untuk berbagi hikmah yang terpahami selama belajar.

    Semangat berproses sepanjang sisa usia, agar semakin menyadari diri, kita semakin tawadu’ tanpa ada kesombongan lagi, yaa, yuuk?

    Suka

  4. My Surya berkata:

    Aku suka catatan indah nya, bercahaya menerangiku di sini, membacanya pun tersenyum 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • Arung Wahyu berkata:

      Terima kasih,, 😊
      Sebenarnya penafsiran ayat cahaya ini banyak sekali ya. Cuma saya saya hanya merangkumkan 2 penafziran para ulama sekaligus beberapa penambahan pemahaman dari saya. Semoga ada benarnya dan kebenaran itu sdh pasti datangnya dr ALLAH. Dan jika yang tersirat masih berupa opini yang msih membutuhkan pembuktian dan kelemahan itu datangnya dari saya yg masih belajar mengkaji ayat demi ayat. Setelah 18 tahun menjadi penghayat ilmu hikmah, puncak tertingginya pun telah saya raih tapi saya ttp merasa kosong dan ujung2x kesombongan yang dikedepankan padahal siapalah kita? Belajar hafal qur’an sbnrx semenjak dini ya, tp baru fokus 3 thn terakhir, tiap hari hafalan memang bertambah dan begitu pula dgn tanggungjawab semakin besar. Akibatx, saya sedikit-demi sedikit mulai mengabaikan apa yg telah kuraih di ilmu hikmah ini.. saya menganggap semuanya sbg proses kembali ke sunnah dgn berdasar pada cahaya diatas cahaya tsb.

      Suka

  5. Desfortin berkata:

    Bnyak kutipan dari buku tafsir ya, mas. Ini ulasan merangkum atau gmn ya?

    Disukai oleh 1 orang

    • Arung Wahyu berkata:

      Hmm.. ada tambahan dari pemahaman saya mas yang menggeluti ilmu hikmah. Kalo Tafzir saya punya banyak mas. Ada tafzir dr Hamka, Tafzir jalalayn dan ibnul qayyim. Dan penjabaran diatas belum merangkum semua dari Tafzir tsb. Mungkin dipembahasan lain akan saya coba saya jabarkan. In sha Allah..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s