Kakekku Seorang Kolonel

image

    Sudah menjadi tradisi jika malam minggu tiba,Segala cara pasti dilakukan untuk wakuncar ke doi mulai dengan membolos kerja atau mensiasati pekerjaan yang bertumpuk menjadi ringan dengan cara tidak mengerjakannya sama sekali.

“jangan meniru adegan diatas, hanya dilakukan oleh seorang profesional”

  Begitu halnya hari itu sabtu 8 Ramadhon 1435H, saya sudah janji sama doi akan datang kerumahnya buat buka bersama. Sambil tengok kiri kanan mengamati situasi kantor ,mengendap endap bak seperti seorang ninja mengawasi lawannya,tak bersuara sambil mencabut samurai dan mempersiapkan shuriken. Berharap bapak bos dan beberapa stafnya keluar kelapangan dengan tugasnya masing-masing. Dan andai ketahuan langsung aja beraksi .. !  Maaf ini bukan cerita horor atau pembunuhan berantai ya..
   Setelah menelusuri semua sudut ruang dalam kantor dan ternyata benar sesuai dengan rencana memang lagi sepi. Ku lihat arloji ditanganku, waktu sudah menunjuk pukul 16.00. Hari itu memang tugasku sebagai analis tidak  terlalu menumpuk. Kesempatan baik untuk kembali menggunakan “gerak siluman“.
   Segera ku hampiri sibiru, nyalakan mesinnya dan ku pacu menuju kota bone, 75KM atau kurang lebih sekitar 1jam dari kota sinjai.
   Rencana buka puasa bersama dengan si doi bareng keluarganya harus jadi tanpa hambatan. Lagian ini pertemuan kedua dengan “calon mertua” tapi disinilah mungkin klimaksnya,sebab pertemuan pertama gak sempat banyak bicara karena waktu itu sudah hampir larut. 
   Tidak berapa lama kemudian tibalah saya ditempat si doi. Setelah beristirahat sejenak dan mengobrol sebentar  dengan ibunya  ,doi lantas meminta izin ke ibunya untuk mengajak saya kepasar membeli persiapan buka puasa. Sekembali dari pasar si doi dan ibunya segera mempersiapkan hidangan buka puasa. Beberapa saat kemudian adzan magrib berkumandang,tandanya berbuka puasa. Dan kami pun berbuka puasa bersama. Kecuali ayah doi, gak hadir karena masih dinas.
    Buka puasa bersama selesai, setelah mendirikan sholat magrib dikamar ,saya pun kembali keruang tamu mencicipi kue dan minuman segar buatan doi. Sambil ngobrol dan bersenda gurau. Beberapa saat kemudian ibu  doi datang dan bergabung dengan kami. lantas kami mengobrol dengan sedikit serius,.
   Suasana riang bersama doi sedikit berubah menjadi mencekam dengan secara beruntung sang ibu melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti sedang meng- introgasi.. 
   “Nak arung sebenarnya asli mana? 
    “Ayah saya orang asli bone bu, mama orang sinjai, saya lahirnya di Makassar tapi besar dijawa. Jawabku sambil sedikit merasa grogi.. Sambil melirik doi yang senyam senyum melihat tingkahku.
   “Kerja apa nak?  Lanjutnya bertanya..
   “Saya hanya pekerja swasta diperusahaan bu,bagian analis.”
   Suasana sedikit diam, kami bertiga cuma saling pandang penuh arti. Jantungku sedikit deg-degan, saat itu saya berfikir, entah mau ditanya apalagi oleh sang ibu.
   “Arung kan tahu kalo ayah mawar(nama doi disamarkan) itu seorang militer, dan kekasih dari kakak mawar itu pun seorang militer juga. Jadi gini nak, saya berharap juga kekasih mawar itu setidaknya dari militer juga.”
    Plak.. seperti sebuah tamparan menghantam pelipisku, kenanya begitu telak sampai kehati.
   “Apa anak punya keluarga dari Militer?
   Pertanyaan-pertanyaan itu seperi menjadi hukuman bagiku. Seperti penghinaan begitu kasarnya.

  

“Saya tidak punya keluarga yang basicnya dari angkatan atau bahkan kepolisian bu.” Jawabku dengan merendah

.

   Sang Ibu diam sejenak sambil melirik anaknya penuh arti. Doi sendiri terlihat begitu tegang, seolah menyesali pertanyaan dari ibunya kepadaku. Saya terdiam cukuplah. Saya pun faham akan maksud ibu. Kisah ini tak bisa bertahan lama. Tapi cinta mungkin butuh perjuangan dan pengorbanan.
    Beberapa saat kemudian,  sang ibu meninggalkan kami berdua diruangan itu. Saya masih terdiam cukup lama. Tanpa ada kata yang keluar lagi dari bibirku.
    Saya seperti kehilangan sesuatu, setelah berbicara beberapa kata dengan doi, saya pun pamit ,pulang dan menuju kerumah tante saya. Keesokan paginya barulah saya kembali ke Kota Sinjai.
    Beberapa minggu kemudian selepas lebaran idul fitri ,saya kembali silaturrahmi kerumah doi. Tapi semuanya telah berubah, sang ibu enggan menemui saya. Hanya sang doi yang tetap menunjukkan sikap respek kepadaku.
    Andai saya jujur malam itu, mungkin segalanya tidak akan pernah berakhir sampai sekarang. Andai saya jujur bahwa paman saya seorang kapolsek disalahsatu polsek di Bone, andai saya mengatakan saya adalah keponakan Letnan Ambo Tang syuaib (Kopassus), andai saya jujur bahwa sepupu saya adalah seorang intel di Kodam dan saya adalah salah satu keluarga besar TNI /POLRI, mungkin sang ibu merestui hubungan kami.

   

Andai saya katakan bahwa saya adalah cucu seorang Kolonel…..

Beberapa minggu kemudian, bibi sidoi sakit dan divonis harus si operasi di salah satu RS dibone, Paman saya yang seorang spesialis bedah lah yang mengoperasinya. Hal itu saya tahu karena 2 hari sebelum dia dioperasi saya berkunjung kerumah bibi doi.

Iklan

Tentang Arung Wahyu

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Aksara Tak Bermakna, Arung Wahyu, Putik Putik Gugur Dandelion dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s