Perindu Alim Rabbani

   

image

     Kini kita benar-benar sangat mendambakan hadirnya para Alim Rabbani, karena cahaya Islam di tengah kita semakin pudar, benang-benang iman bertambah kusut, ulama-ulama gadungan semakin banyak yang gentayangan, serta derasnya arus serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Islam tidak bisa diselamatkan tanpa Alim Rabbani, umat tidak bisa dibina tanpa Alim Rabbani dan kemungkinan tidak akan maju tanpa Alim Rabbani. Alim Rabbani sangat langka di negeri kita ini, namun patut bagi kita mengenal siapa Alim Rabbani itu !!

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor menyimpulkan bahwa Alim Rabbani adalah seseorang yang mentarbiyah umat manusia dengan Manhaj ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, ia membina mereka setahap demi setahap sampai berhasil membawa mereka kepada pengikutnya yang tinggi yang diinginkan oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala (Ma’alim Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah hal: 30).

Alim dalam istilah syar’i adalah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya. Sebutan Rabbani adalah : Dinisbatkan kepada lafazh-lafazh “Rabb” dengan tujuan pengkhususan terhadap ilmu Rabb yaitu ilmu syariat. Karena itu ditambah dengan alif dan nun رباني ini menurut Imam Sibawaih. Sebagian ahli nahwu berpendapat bahwa tambahan alif dan nun untuk mubalaghah (memberi arti lebih) artinya sangat alim dan menguasai ilmu syariat.

Al-Mubarrid berkata : Rabbani dinisbatkan kepada lafadz tarbiyah (pendidikan) رَبِّ رُبُ رِبًا فَهُوَ رَبَّانِ = ditambahi alif dan nun untuk mubalaghah artinya seorang guru yang sangat mendidik dan benar-benar membimbing.

Imam Mujahid berkata: Rabbaniyyun adalah diatas Ahbaar, sedangkan ahbaar adalah ulama.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ …..
(المائدة: 44)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh para nabi-nabi yang menyerah diri kepada ALLAH, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab ALLAH dan mereka menjadi saksi terhadapnya”. (Al-Maidah : 44).

Abu Umar Az-Zauhid bertanya kepada Tsa’lab tentang makna Rabbani. Maka Tsa’lab menjawab: Saya dulu juga bertanya kepada Ibnul A’robiy. Maka jawabnya: “Jika seorang itu menguasai ilmu (syar’i) lalu mengamalkan dan mengajarkannya maka gelar ini diberikan kepadanya, itulah Rabbani. Dan jika ia lepas dari salah satu sifat tersebut maka kamu tidak lagi menyebutnya “Rabbani”

Jadi sungguh langka Alim Rabbani di negeri ini pada jaman ini, padahal ALLAH Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita dan ulama kita agar menjadi Rabbani.

Dalam firman-Nya:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُون
َ [آل عمران : 79]

“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
(Al-Imran : 79)

كونوا ربانين Jadilah ulama syariat yang mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia sesuai dengan manhaj ALLAH. Manhaj yang benar ini adalah manhaj ulama salaf dalam belajar mengajar beramal dan berda’wah.

Seorang Tabi’in besar Abu Abdir Rahman As Sulaimani memutuskan: Sungguh kami balajar Al-Quran dari para shahabat seperti Utsman bin Affan (W 35 H) dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mereka bercerita kepada kami bahwa mereka dulu jika belajar sepuluh ayat mereka tidak melewatinya untuk belajar sepuluh ayat yang baru. Sebelum mereka mempelajari dan mengamalkannya. Maka kami juga belajar ilmu dan pengamalannya sekaligus. Sesungguhnya Al-Qur’an sesudah kami ini akan diwarisi oleh suatu kaum yang menirukan Al-Qur’an. Seperti layaknya meminum air tidak akan melewati tenggorokan (tidak memahaminya).
(HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat dengan sanad shahih dan HR. Ibnu Abi Syaibah).

Begitulah, ulama Rabbani mengajarkan Al-Qur’an, mulai dari cara membacanya, menghafalkan, menafsirkan dan mengamalkannya. Coba kita perhatikan di sekeliling kita :

Banyak dari para hafizh sampai terbentuk banyak wadah untuk mereka seperti Jam’iyyatul Qura’wal huffazh dan Jam’iyyah sema’an, namun apakah mereka telah melaksanakan amanah Al-Qur’an seperti ulama Rabbani ? mereka kebanyakan membaca Al-Qur’an hanya dalam pesta, festifal, musabaqah dan upacara-upacara. Istilah Qurra’ dan Huffadz yang ada dalam Islam telah mereka zhalimi dan mereka kotori. Qurra’ menurut pamahaman syara’ adalah ulama fuqaha’ yang benar-benar memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

Imam Adh Dhahhak radhiyallahu ‘anhu berkata:

كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب

Maksudnya adalah jadilah kalian Ulama Rabbaniyyun yang memahamkan Al-Kitab kepada manusia, dan maknanya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan segala larangannya, serta hafalkan lafadz-lafadznya!

Para Khotib, mubaligh dan Da’i juga banyak, namum kebanyakan mereka masih bersifat sebagai da’i penghibur yaitu da’i pemusik (yang berda’wah menggunakan alat-alat musik) dan da’i pelawak (yang menjadikan lawakan sebagai bumbu utama dalam setiap waktunya).

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:

“Kamu duduk di maqom ini menasehati manusia kemudian kamu tertawa di tengah mereka dan juga kamu kisahkan cerita lucu maka cara seperti itu tidak akan selamat”.

Benar yang dikatakan oleh syaikh sebagai buktinya lihat masyarakat yang menyukai kiyai-kiyai pelawak, apakah mereka mengerti dan mengamalkan Islam? Apakah mereka memahami aqidah ahlussunnah yang benar dan bisa membedakan mana yang sunnah mana yang bid’ah? Apakah mereka memiliki hati yang bergetar jika disebut Ayat-Ayat ALLAH? Jawabannya tentu tidak. Mengapa? Karena mereka berguru kepada kiyai pelawak yang jika membahas adzab kubur dan adzab neraka pendengarnya akan terpingkal-pingkal karena asyik, senang dan gembira. Itu baru membahas adzab neraka, belum lagi kalau bicara tentang pernikahan maka ALLAH Maha Mengetahui tentang penyimpangan mereka والعياذ بالله منه.

Dan sebagai akibatnya mereka tidak menyukai ulama ahlussunnah yang mengisi pengajian atau ceramah dengan serius sebagaimana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika khutbah atau khithabah. Sungguh telah jungkir balik timbangan yang telah dipasang oleh Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam di saat sekarang ini ولا حول ولا قوة إلا بالله .

Kiyai penghibur lainnya adalah Kiyai dan pemusik yang menjalankan maksiat sebagai media resmi dan sarana kebanggaan dalam berkhutbah. Da’i atau Kiyai jenis ini mempunyai andil besar dalam menanamkan kemunafikan dan menyebarkan kefasikan. Mengapa tidak ? Mereka yang telah gandrung di musiknya para da’i ini baik musik kosidah, gambus, dangdut, pop, gending jawa atau musik jenis apa saja hatinya akan berpaling dari Al-Qur’an dan akan berpaling dari As-Sunnah dan akan berpaling dari Ashhabul Hadits. Padahal sebenarnya mereka mencintai Al-Qur’an, As-Sunah dan Ahlus Sunnah, bahkan ini adalah nifak! tentu Ulama, Kiyai, dan Da’i penghibur bukanlah Alim Rabbani yang kita dambakan.

Ada lagi ulama yang serius dalam berda’wah, namun tidak berjalan di atas Manhaj ALLAH, Manhaj yang shahih, mereka serius mengajak kepada bid’ah, mengajak untuk membunuh Sunnah dan memadamkannya, ada yang mengajak kepada wirid-wirid bid’ah, ada yang mengajak kepada upacara-upacara bid’ah, ada yang mengajak kepada akidah-akidah bid’ah. Mereka bukan ulama Rabbaniyyun yang bisa memuliakan Islam. Tetapi merekalah yang membodohi umat dan mencoreng Islam dengan warna hitam. والله المستعان.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ.

“Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Amhad dan At-Tirmidzi dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari).

Mereka adalah ulama Rabbaniyyun yang mewarisi tugas Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam yang telah termasuk dalam surat Ali Imran: 164.

Tugas pertama adalah Tazkiyah, mensucikan akhlaq dan jiwa mereka dari syirik, riya, dusta, khiyanat, sombong, hasad dan sebagainya) dan Tazkiyah ini tidak bisa sempurna tanpa tarbiyah.

Tugas kedua adalah Ta’lim Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ta’lim ini tidak bisa sempurna tanpa Tashfiyah yaitu membersihkan Islam dari ajaran yang telah mengotori Islam. Tazkiyah dan Tashfiyah ialah tugas berat yang diemban oleh para Alim Rabbani yang kehadiran mereka yang sangat kita dambakan demi membimbing umat manusia ke dalam jalan yang lurus Al-Kitab dan As-Sunnah.

Penulis

(Sumber: Agus Hasan Bashori,Lc dari buku Khutbah Jum’at Pilihan Setahun)

Iklan

Tentang Arung Wahyu

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Arung Wahyu dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s