PENAFSIRAN AYAT-AYAT TENTANG WISATA

Penafsiran Ayat-ayat Tentang Wisata

QS.Al Imran  : 137

a. Redaksi Ayat

ﻗَﺪْ ﺧَﻠَﺖْ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﺳُﻨَﻦٌ ﻓَﺴِﻴﺮُﻭﺍ۟ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻓَﺎﻧﻈُﺮُﻭﺍ۟ ﻛَﻴْﻒَ ﻛَﺎﻥَ ﻋٰﻘِﺒَﺔُ ﺍﻟْﻤُﻜَﺬِّﺑِﻴﻦَ : ١٣٧

b. Terjemahan Ayat

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah ALLAH Azza wa Jalla, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

c. Tafsir Mufrodat

سنن: plural untuk sunnah, yaitu jalan yang diteladani, contohnya:
sunnah nabi. Maksudnya adalah kejadian-kejadian yang menimpa pendusta.

d. Munasabah Ayat

Dalam ayat-ayat sebelumnya ALLAH SWT menganjurkan para hamba-NYA untuk bersabar dan bertaqwa, juga mengingatkan orang-orang mukmin tentang bantuan ALLAH SWT berupa “kiriman” malaikat kepada mereka dalam Perang Badar. Dalam ayat-ayat selanjutnya ALLAH menyuruh orang
beriman untuk bersegera memperoleh ridha ALLAH SWT. Kemudian ALLAH Azza wa Jalla juga menerangkan secara terperinci kekalahan orang beriman dalam Perang
Uhud setelah mereka memenangi Perang Badar, serta penyebab kekalahan
itu, yang tidak lain dikarenakan ada sebagian orang membangkang perintah
Rasulullah Saw. Kemudian ALLAH Azza wa Jalla menjelaskan bahwa cobaan adalah hal yang biasa dalam hidup ini, dan terbunuhnya para nabi jangan sampai menjadikan hati orang-orang beriman menjadi lemah. ALLAH Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan pelajaran dan hikmah yang diambil dari kekalahan dalam Perang Uhud.

e. Penasfsiran Ayat

Menurut Al-Maraghi, perintah berjalan di muka bumi dan merenungkan berbagai peristiwa yang telah menimpa umat sebelumnya.
Menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran, agar mendapatkan ilmu yang benar serta didasari oleh bukti. Dari situlah akan didapatkan sebuah petunjuk, bahwa pengaturan antara kebenaran dengan kebatilan memang
telah terjadi pada umat terdahulu. Kemenangan selalu berada di pihak yang benar selama dibarengi dengan kesabaran dan ketaqwaan. Termasuk di antara ketaqwaan adalah mengikuti yang telah digariskan oleh ALLAH SWT untuk mencapai kemenangan yaitu melatih diri, mempersiapkan peralatan
senjata guna memerangi musuh, seperti yang telah diperintahkan oleh ALLAH SWT melalui Firman-NYA  :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh ALLAH SWT dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang ALLAH SWT
mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan ALLAH SWT niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Hal itu terus berlangsung dalam bentuk tatanan yang tetap dan sebab sebab yang tidak berubah dan berganti. Berjalan di muka bumi untuk menyelidiki keadaan orang-orang terdahulu guna mengetahui apa yang telah menimpa mereka, merupakan sebuah alat bantu yang paling baik untuk mengetahui sunnah dan mengambil pelajaran darinya.
Terkadang bisa diambil juga pelajaran seperti ini dari buku-buku sejarah yang telah dicatat oleh orang-orang yang telah menyelidiki ikhwal mereka.
Mereka ini telah melihat langsung bekas-bekas peninggalannya,sehingga
bisa dibuat pelajaran dan petuah untuk generasi umat beragama.
Tetapi mengacu kepada buku-buku sejarah itu masih berada di bawah tingkat keyakinan orang-orang yang melakukan ekspedisi tersendiri, kemudian melihat peninggalan-peninggalan bersejarah secara langsung.
Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa, ALLAH SWT ber-Firman kepada hamba-hamba-NYA yang mukmin tatkala mereka
mendapat musibah dalam Perang Uhud dan gugur tujuh puluh orang diantara mereka sebagai syuhada. Bahwa hal yang serupa itu telah terjadi
pada umat-umat terdahulu sebelum mereka, para pengikut nabi-nabi yang
akhirnya merekalah yang beruntung dan orang-orang kafirlah yang binasa.
Karenanya ALLAH SWT memerintahkan hamba-hamba-NYA mengadakan
perjalanan untuk melihat dan menyaksikan bagaimana akibat dari yang diderita oleh umat-umat yang mendustakan nabi-nabi-Nya.

Sayyid Quthb juga menjelaskan bahwa Al Qur’an mengaitkan masa
lalu manusia dan masa kininya, serta masa kininya dengan masa lalunya.
Maka, dari celah-celah semua itu di isyaratkannya pula masa depannya.
Ketika bangsa Arab mendapatkan firman ini pertama kali, kehidupan,
pengetahuan dan pengalamam mereka (Sebelum Islam) tidak menolerir pandangan yang menyeluruh ini bagi mereka. Kalau bukan karena Islam
(dan kitab sucinya Al Qur’an) yang dengannya ALLAH SWT menjadikan mereka lain dari yang lain, dan menjadikan bagian dari mereka sebagai umat yang memimpin dunia, niscaya mereka tetap dalam kejahiliyaan.
Sistem kabilah (kesukuan) yang mereka hidup di bawah bayang-bayangnya, tidak dapat membimbing pikiran mereka untuk mengaitkan
penduduk Jazirah Arab dengan apa yang berlaku dalam kehidupan mereka.
Apalagi, mengaitkan antara penduduk bumi ini dengan segala peristiwa yang dialaminya dan menghubungkan antara peristiwa-peristiwa yang
terjadi di dunia dengan Sunnah Kauniyah (hukum alam) yang berlaku dalam semua aspek kehidupan. Ini merupakan lompatan jauh yang tidak
bersumber dari lingkungan dan tidak terjadi sebagai tuntutan kehidupan
pada masa itu. Tetapi, yang membawa mereka kepada pandangan yang
demikian adalah akidah. Akidah inilah yang membawa mereka dan mengangkat derajat mereka sedemikian tinggi dalam kurun waktu
seperempat abad saja. Sementara itu, manusia lain yang katanya lebih
modernis tidak dapat mencapai tingkat pemikiran yang demikian tinggi
melainkan setelah memakan waktu berabad-abad dan mereka tidak mengetahui kebakuan sunnah serta undang-undang alam ini melainkan setelah berlalu masa beberapa generasi. Namun setelah mereka
mengetahui bakunya sunnatullah ini, mereka lupa bahwa keberlakuan
hukum alam ini disertai oleh kehendak Ilaahy yang mutlak dan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada ALLAH Azza wa Jalla.

Adapun umat pilihan ini, maka mereka telah meyakini semua itu, tashawwur-nya (pandangannya) begitu luas. Mereka merasakan keseimbangan antara Sunnatullah dan sesudah itu, merasa tenanglah hatinya terhadap kehendak ALLAH Azza wa Jalla yang mutlak.

Sunnahlah yang mengatur kehidupan. Sunnah yang telah ditetapkan oleh kehendak yang mutlak. Maka apa yang terjadi pada masa sebelum
kamu akan terjadi pula (dengan Kehendak ALLAH SWT) pada masa kalian.
Keadaan yang terjadi pada umat sebelum kalian, juga akan terjadi pada kalian.
Itulah akibat yang dapat disaksiakan bekas-bekasnya di muka bumi dan dapat disaksikan pula langkah-langkah perjalanan mereka yang ditapaktilasi oleh generasi sesudahnya.
Al Qur’an banyak menyebutkan perjalanan dan bekas-bekas mereka ini dalam berbagai tempat didalamnya.
Sebagian dibatasi tempatnya, masanya dan pelaku-pelakunya. Sedangkan
sebagian lagi hanya diisyaratkan tanpa batasan dan perincian. Disini Al Qur’an mengemukakan isyarat secara global untuk tujuan secara global pula, yaitu ;

“apa yang terjadi terhadap orang-orang yang mendustakan rasul-rasul (ayat-ayat) ALLAH SWT kemarin, juga akan terjadi pada para pendusta itu sekarang dan pada waktu yang akan datang.”

Hal itu dimaksudkan agar hati kaum muslimin menjadi tenang terhadap akibat ini dari satu sisi dan dari sisi lain agar mereka berhati-hati
serta tidak tergelincir seperti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
ALLAH SWT itu. Jadi, disana terdapat seruan untuk menenteramkan hati dan
untuk berhati-hati.
Bumi itu seluruhnya adalah satu dan merupakan panggung kehidupan manusia. Bumi dan kehidupan di dalamnya adalah buku terbuka yang dapat dibaca oleh mata kepala dan mata hati.
Ali Ash Shobuni juga menjelaskan bahwasanya telah berlalu sunnah-sunnah ALLAH SWT kepada umat-umat yang terdahulu dengan
kehancuran dan kebinasaan, akibat perselisihan mereka terhadap para Nabi-NYA. Perintah untuk mencari berbagai berita dan informasi orang-orang yang mendustakan rasul-rasul-NYA dan apa yang ditimpakan kepada mereka, bertujuan agar umat manusia dapat mengambil pelajaran dari
jejak-jejak mereka.
  
#sumber skripsi Indah Murni Mahardini

Iklan

Tentang dandeelion

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Pos ini dipublikasikan di Arung Wahyu dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s