MY TRIP LILLAAHI TA’ALAA


Kita belum bisa memastikan apakah perjalanan yang kita lalui saat ini sudah mendekati tujuan dan sasaran yang telah kita planningkan sejak awal. 

Atau bahkan sudah melenceng jauh, yang semestinya kita berada dijalur yang tepat karena kita merasa sasaran sudah benar yang membuat kita terlena. Dan disaat terlena ini kita tak bisa mencermati bahwa dipenghujung tikungan sana ada jalur kecil yang semestinya itulah jalan yang harus ditempuh. Kita terlena dan merasa nyaman bahwa jalan raya yang mulus inilah arah yang membawa kita ke tujuan. Kenyataannya bahwa jalan yang terlewati tadi yang nampaknya seperti jalan pengerasan dan kumuh justru di akhirnya adalah kota tempat yang kita tuju.

Jika merasa nyaman dengan keadaan sesekali sembari menengok kebelakang,apakah kenyamanan ini telah benar atau malah membuat kita alpa dan terlupa.

Itu adalah sebagian lika – liku kehidupan. Yang semestinya tampak indah, karena terbuai akhirnya lupa akan segalanya. Lupa akan jalan yang dituju. Syukur-syukur sewaktu jalannya belum jauh kita segera teringat lagi akan kealpaan kita dan segera memutar balik stir sebelum batas tempo yang ditentukan untuk menuju kota impian berakhir.
Kita sekiranya kita mulai merasa lelah, tiada salahnya kita istirahat sejenak sembari menenangkan fikiran, sembari memanjatkan syukur ke Hadirat Rabbul Izzati yang masih memberi kita kesempatan untuk berjalan dijalan yang benar.

Kapan lagi kita bersyukur, , bersujud dan berdo’a kearah bumi tempat berpijak yang dengannya itu seisi langit meng-aamiin kannya??

Kita berjalan tidak sekedar berjalan, gunung tinggi didaki,lautan kusebrangi tapi tetap mesjid adalah tempat singgah untuk mendirikan ibadah kita. 

Timbul pertanyaan ? 

Jika dalam perjalanan tak ada ditemui masjid,musholla atau rumah?

Dinul Islam adalah memudahkan tapi kita jangan mempermudah…!  Bukankah hamparan tanah yang diciptakan ALLAH adalah fasilitas yang telah disiapkan? Dimanapun kita bersujud(yang penting tempatnya diyaqini suci) disanalah akan menjadi sebuah Masjid.

My Trip Lillaahi Ta’alaa
Baarokallahu fik

Iklan

Tentang Arung Wahyu

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Pos ini dipublikasikan di Inspiratif dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s