Mission Imposible II

    Ini pengalaman kedua kalinya saya sebagai “duta” dari calon mempelai pria kerumah calon mempelai wanita. Kalo dalam bahasa Makassar tugas sebagai duta ini adalah assuro yang arti dalam bahasa Indonesianya adalah melamar.
   Kemaren, ahad 26 February 2017 saya bersama empat orang lainnya dengan berkendara motor berangkat dari Kab. Sinjai menuju ke Kab.Takalar dalam rangka mengembang misi sebagai duta  dari pihak calon mempelai pria ke pihak calon mempelai wanita.
    Satu hal yang perlu diketahui adalah calon mempelai pria dan calon mempelai wanita adalah sepupu saya juga. Jadi kata tante saya ibu calon mempelai pria,  hal ini dilakukan adalah menyambung kembali silaturrahmi dan mempereratnya dalam sebuah ikatan pernikahan. Di maklumi, Om saya di Takalar, ayah calon mempelai wanita berkata dengan bersungguh sungguh bahwa sekiranya bukan karena anak, maka ia dengan saudara sepupunya(ibu calon mempelai pria) dipastikan tak akan bertemu lagi. Terakhir ia menginjak Tanah orang tuanya pada tahun 1981. Jadi dengan pernikahan anaknya akan menjadi moment yang sangat penting, akan menjadi reuni akbar antara keluarga besar kami. InshaaAllah. Begitu masygul wajahnya saat melontarkan perkataan itu. Dalam hatiku berkata;  “Paman, sekiranya bukan kerana pernikahan antara dua sepupu saya ini, saya mungkin tak pernah mengenalmu”.
    Makanya sejak dini dua bersaudara sepupu ini saling menelfon terlebih dahulu, bahwa bagaimana kalo kita bersaudara sepupu besanan saja. Pucuk dicinta ulam pun tiba, taro ada taro gau. Perbincangan dua saudara sepupu ini mendapat klimaks, saling menyambut. Maka diputuskanlah syarat syarat pelamarannya dan berapa besar uang panainya. Nah setelah semua ditentukan, maka di utuslah saya sebagai duta dalam misi ini. Bersama om saya(ipar dari tante saya) ,bersama dengan menantu tante saya ditemani dua kerabat lainnya ke Kab. Takalar, ahad pagi pukul 08.00.
    Pak tua kerabat ini sebagai penunjuk jalan bersama istrinya, om saya(pak Ambo Nurda S.pd bersama Basri ,ipar sepupu saya ditengah, dan saya sendiri dibelakang beriringan disepanjang perjalanan. Nah karena kami mengandalkan pak tua sebagai penunjuk jalan maka kami fikir dia pasti tahu betul rute yang bakal kami lewati. Yakni tepatnya Kec.Polong Bangkeng Selatan(POLSEL),Kab.Takalar.
    Tapi setelah masuk ke Kota Takalar saat melewati Canrego, tempat dimana seharusnya rute menuju PolSel,justru beliau ini terus ke jalur Kab. Jeneponto. Barulah setelah sampai perbatasan Kab.Takalar -Kab.Jeneponto,pak tua ini singgah mengaso sebentar. Dan bertanya sama Pak Ambo..
    “Kita sudah sampai diperbatasan, apakah rumah yang kita tuju sudah dekat?
    Dengan muka kebingungan Pak Ambo menjawabnya.
   “Kayaknya tidak sejauh ini, lagian inikan sudah perbatasan.. kita mungkin salah jalan..
   Semuanya kaget mendengar penuturan Pak Ambo.
   Saya segera faham dan bisa membaca situasi.
   “Om, puang,, sebenarnya tujuan kita kemana mau ke jeneponto atau POLSEL.? kalo jeneponto nah ini terus. Kalo POLSEL kita sudah melewati jalan masuknya sekitar 15-20KM dari sini..
    Kembali mereka kaget..
    “Fikirku tadi puang,, setelah kita lewati canrego, mungkin puang ada jalan tersendiri menuju POLSEL, makanya saya diam saja. Saya kan sudah dua kali ke POLSEL . Kalo mengantar puang dan Om sampe POLSEL biar saya yang jadi pemandu. Tapi setiba di POLSEL ke rumah mempelai giliran om ambo, karena saya belum pernah kerumahnya.. om ambo kan pernah,cuma tidak lewat rute ini.”
    Akur…
   Giliranku jadi pemandu, 10 menit kemudian tibalah kami diPOlSEL. dengan panduan istri om saya yang lain di Takalar via telepon maka tibalah kami di POLSEL rumah om saya(saudara dari ayah calon mempelai wanita).
    Setelah beristirahat sejenak, rombonganpun menuju rumah calon mempelai wanita. Disana sudah menunggu keluarga besarnya beserta Imam Desa, Kepala Dusun, dan beberapa Tokoh Masyarakat..Betapa terharu perasaanku setelah melihat paman saya Daeng Taba, ku salami dia ,lantas ku berbisik padanya,,
    “Om,, saya juga ini adalah keponakanta(anak dari saudara sepupumu)..
   “Naiklah kerumah,,,”
    Sambutnya sambil menepuk pundakku..
    Saya naik tangga rumah panggung itu, menyusul Puang dan istrinya,lalu om Ambo dan dibelakang saya ada Basri.
    Ku jabat tangan dengan para Tokoh Adat yang telah menunggu, dan lanjut duduk disamping om Ambo sambil berhadapan dengan semua pihak tuan rumah..
   Acarapun berlanjut, yang dibuka oleh Imam Desa. Setelah itu dengan bahasa adat dia mempersilahkan kepada kami untuk mengutarakan maksud kedatangan kami.
  Catatan:  sebenarnya mereka sudah tahu maksud kedatangan kami sebagai duta sekaligus membawa uang panai, tapi ini pertanyaan adalah sebagai rangkaian prosesi adat.
    Pak Tua(saya lupa namanya, makanya saya sebut Puang), lantas mengeluarkan rokok serta sekaligus mengeluarkan sejumlah Uang Panai dan meletakkannya dalam sebuah talang yang terpisah, sambil menyodorkannya kepada Imam Desa yang mewakili Pihak wanita.
   “Tabe, terimalah maksud baik kami dan ini sekaligus saya bawa uang panai yang telah ditentukan kedua belah pihak”.
   Pak Imam Desa lantas menerimanya..
   Nah setelah Pak Imam Desa menerimanya, sambil menunggu kata selanjutnya dari Puang untuk menjelaskan kembali berapa besar uang panainya. Si Puang justru menanti kata tanda terima dari Pak Imam Desa. Hal ini terjadi hampir sekitar 10 menit saling bungkam. Pak Imam menunggu kata Puang, si Puang menunggu kata terima dari Pak Imam.  Karena lamanya itu para hadirin akhirnya heboh sendiri..
   “Angngapa na sallo kamma(kenapa lama sekali?) Terdengar teriakan dibeberapa sudut rumah dari para hadirin. Bahkan sudah banyak yang tertawa.
   Pak Imam sempat melirikku dan tersenyum, seakan dia tersadar. Akhirnya dia membuka suara.
   “Saya sebenarnya menunggu kalimat penjelasan Puang selanjutnya,,,,
    “Saya justru menunggu tanda terima Pak Imam….
    Hadirin pun tertawa,melihat kejadian lucu….
    “Ternyata kita saling menunggu. Di maklumi.. karena adat kita berbeda.. kami adat Takalar sudah tentu beda dengan adat bugis. Seharusnya disini, setelah Puang menyerahkan Uang Panai’nya, Puang menjelaskan dulu jumlahnya biar semua hadirin tahu…
   Begitulah acara serah terima Duta dan uang panainya berlangsung. Dan ditetapkanlah bahwa akad nikah akan digelar pada hari kamis,9 maret 2017 badda Magrib.
   Setelah serah terima kana selesai, maka kami bersantap siang bersama. Setelah itu tuntun bija(cerita asal usul keturunan/keluarga). Saya sedikit bersemangat dalam hal ini. Saya vokal, makanya Pak Imam Desa selalu merespon dengan baik..
    “Inaikah ane dg.Tompo?
     Imam Desa bertanya sama om saya(saudara dari ayah calon mempelai wanita/Risma.
    “Apakah dia dari LSM atau anggota?
    “Dia keponakan saya, dia itu seorang hafidz Qur’an, bahkan seorang Imam juga. Dan dialah ini yang menganalisa jarak jauh tentang prediksi Pilkada Takalar kita saat ini, bahkan dia sudah tahu bahwa jago kita sudah unggul dari lawannya 3 bulan sebulan Pilkada dimulai..
     Om Tompo menjelaskan, saya seperti tersanjung. Pak Imam Desa dan beberapa hadirin manggut manggut mendengarkannya.
    “Oh kamma anjo(oh.. begitukah?)
     “Iya….
    Setelah acara selesai, tuntun bija pun selesai, kami pun para Duta pamit untuk kembali ke Kab.Sinjai, pada pukul 16.00.
   Saya sempat menyalami semua keluarga yang hadir ditempat itu, dan memberi ucapan “selamat” kepada calon mempelai wanita atas berlangsung lancarnya prosesi serah terima duta dan uang panainya dan tanpa kendala apapun.
    “Semoga Sakinah, Mawaddah,Mahabbah,wa Rohmah sebagai jembatan menggapai Redha ALLAH “..

Iklan

Tentang dandeelion

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Pos ini dipublikasikan di Arung Wahyu. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s