Dengan Cinta, Tuhan Mengujiku



  1. Berharap Restu


” Kak, belajarlah mengikhlaskan aku,, 

Aku sangat sayang dan mencintaimu, tapi Tuhan berkendak lain. Leukimia yang menyerangku ini sudah sampai tahap stadium akhir. Meski demikian aku masih di anjurkan oleh mama dan papa untuk tetap berobat ke Madura”.

         “Terima kasih atas cinta, kesetiaanmu selama ini. Kenanglah aku kak,, ! “

          ” Kak,, , ingatlah aku, , betapa aku pernah merindukanmu. Betapa aku pernah mencintaimu, Ingatlah aku saat mendengar lagu kita,  “Jauh” dari grup band favorit kita Slank “.

           ” Aku dan keluarga minta maaf telah merepotkanmu selama ini,  lanjutkanlah kariermu”. 

Kak Arung,, Aku mencintaimu.

       Kalimat kalimat terakhir itu masih ternginang ditelinga, masih jelas tertanam dibenak Arung hingga saat ini. Bagaimanakah engkau sekarang? Apakah engkau baik baik saja. Ayu,, aku sangat merindukanmu. Pertanyaan pertanyaan itu sering timbul.  Terakhir kali bertemu seminggu yang lalu sebelum Ayu berangkat ke Madura bersama keluarganya. Di coba terus untuk menghubunginya lewat ponsel N3120 miliknya. Tapi semua sia sia, nomor ponselnya sudah tak aktif.

     Arung tetap berfikir positife, “jika aku tak menembus lagi nomor ponsel itu, mungkin Ayu yang akan menghubungiku.


Tapi hingga saat ini, semua sambungan terputus. Arung menjadi galau dan patah semangat dan berakibat fatal dengan kariernya.


     ******


Setahun silam sebelum kisah itu  terjadi, Arung sedang berselisih faham dengan kakak nya.  Arung bersikeras untuk ikut ekspansi ke kediri dengan perusahaan yang dia ikuti.

     “Kamu gak boleh ikut ekspansi! Lebih baik jika engkau keluar dari perusahaan itu dan mencari pekerjaan lain saja”.

     ” tidak kak,, saya harus mengejar mimpiku, saya harus bekerja semaksimal mungkin untuk bisa meraih kesuksesan disana. Kak, percayalah, , aku berangkat kesana demi mama, dan keluarga. Semoga keberhasilan bersamaku disana “.

    “Tetap tidak bisa, aku lebih tahu perusahaan itu bagaimana,, hanya dipenuhi dengan iming-iming saja”..

    Bersilat lidah dengan kakak keduanya ini tidaklah Arung pernah menang, akhirnya Arung meninggalkannya dan kembali ke kostnya di BTP blok C. Sempat dia menoleh kebelakang menengok kakaknya yang menatapnya dengan wajah kesal. ” Dia jauh jauh datang dari kota Bone hanya untuk memintaku keluar dari perusahaan ini,kasihan kak Herman”. Guman Arung dalam hati. Dia masuk kekamarnya , beristirahat sejenak memikirkan beberapa perkataan sang kakak kepadanya, tapi motivasi untuk sukses di perusahaan ini amatlah besar. Tak berapa lama kemudian karena kelelahan seharian bekerja Arung tertidur.

     Ke esokan harinya, Arung kembali memulai aktivitas sebagai seorang marketing door to door. Dijalaninya dengan rutin tiap hari tidak peduli panas terik dan hujan silih berganti menguji guna menawarkan produk dan penawaran jasa service di kota makassar.

    Seminggu sebelum perusahaan ekspansi besar besaran ke tanah Jawa, Arung masih tetap bekerja,  sampai menunggu waktu tibanya hari keberangkatan. Hari itu Arung terima surat dari mama yang mengetahui bahwa ia akan ikut ekspansi ke Jawa. Dalam suratnya Mama juga melarangnya untuk berangkat. Arung semakin serba salah, justru disaat seperti ini restu mamalah yang diperlukan. Sang ibu justru menawarkan supaya dia kuliah. Dasar jiwa pemuda, Arung tetap dipendiriannya harus ikut reposisi ke kota Kediri.

     Sambil berjalan menelusuri lorong perkotaan Makassar Arung terus memikir kalimat kalimat penolakan dari keluarganya. Di tambah lagi teman teman akrab saat di SMA kompak tulis surat kepadanya untuk mnyatakan hal yang sama. Tiada dukungan kepadanya. Memikirkan semua itu tiada jalan pemecahannya. Arung mulai lelah berjalan. 

“Aku harus beristirahat sejenak, kebetulan belum ada respons positif dari beberapa rumah yang kutawari”. Ucapnya dalam hati.

     Melihat penjual pisang molen dipinggir jalan, ia langkahkan kakinya kesana. Seraya memesan molen, menatap wajah penjual itu. Dia sudah sepuh berkopiah hitam, berjenggot hitam tipis, ada pancaran aura keshalihan dari wajahnya. Di ambil satu molen pesananannya dan dia pun mengunyah. Arung memang merasa lapar,sambil duduk di kursi yang pak tua ini sodorkan kepadanya.

      Beberapa saat kemudian dia mendengar pak tua itu berbicara kepadanya, , 

” adik mau kekediri?

Arung kaget,!! Seraya menoleh kepada pak tua penjual molen ini. Ia lihat pak tua tetap sibuk menggoreng molen dan melayani beberapa pemesan hari itu.

   Iya pak..

    Adik gak usah berangkat kesana, saya pastikan adik gagal.  Dari 80 rekan adik yang berangkat ,saya pastikan beberapa orang saja yang bisa sukses. 5 sampai 6 orang saja. Lanjutnya.

     Arung semakin kaget dan heran atas pertanyaannya. Dia tak sekalipun menoleh kepada Arung.

    Bapak siapa? Kenapa bapak tahu jika aku ingin berangkat kediri.?

   Sambil menunggu jawaban, pak tua itu pun menoleh ke arahnya sambil tersenyum. 

     Adik, jika kau bersikeras berangkat, silahkan. Saya cuma menasehatimu. Dan memberikan saran. Jika sampailah engkau di Kediri, pergilah engkau mencari Gus Ma’shum. Kepala ponpes Lirboyo kediri. Sampaikan salamku kepada beliau.

    Arung semakin tidak mengerti sejauh ini.

     Siapa bapak?

     Aku KH.Muhammad Rodi, aku saudara KH.Gus Ma’shum.  Orang sini memanggilku Kiai Molen.

    Arung terdiam sejenak dan berfikir,

      Pantas saja dia tahu aku, ilmu batin bapak tua ini pasti sangat tajam.

Arung memikirkan semua ucapan pak tua itu barusan. 

    Tapi bapak,,,, motivasiku sangat besar diperusahaan ini. Dan tekadku sudah bulat.

    Baiklah jika itu maumu, lakukan saja pesanku kepadamu.

    Terima kasih bapak atas sedikit masukanmu. 

Setelah membayar molennya, Arung ucapkan salam kepada pak tua. Dan arung pun melangkah pulang ke kost nya, tidak melanjutkan lagi kerjanya. Di atas angkot arung terus berfikir pertemuan aneh dengan pak tua tersebut yang mengaku sebagai KH. Muhammad Rodi.  Dia fikir, ini bukan kebetulan pasti ada sebab akibat dengan semuanya. Arung mulai kwatir dengan perjalanannya,.

      sukseskah saya di kediri?

Apa yang terjadi kelak pada saya di kediri?

Bisakah saya kembali lagi kemakassar jika sudah berada disana. ? semua pertanyaan itu berkecamuk dalam fikirannya.

    Tuhan,, beri aku petunjukmu.

Segala keluh kesah dan pengalaman aneh yang dialami arung hari ini di curahkan semua lewat do’a kepada Tuhan.  Inti dari perkataan mereka tiada restu buatnya. Fikirannya mulai sumpek di badda isya itu. Selang berapa lama kemudian saat arung melamun, di lihatnya dua sahabat karibnya (rekan kerja diperusahaan) telah tiba di kontrakannya pula. Ani dan Medi.  Begitulah sapaan mereka berdua.

      Ngapain melamun Rung,,, pasti kamu zero lagi kan? Sudah ku pastikan itu.  Hehe. Sapa si Ani yang sudah tahu jelas jika Arung memang gak selling hari ini.

    Iya, hari ini aku gak fokus, , ada banyak masalah. Jawabnya serasa menolehkan mata sayunya ke jurusan lain dalam kontrakan itu.

   Masalah apa lagi saudaraku,, kalo gak ada duit omong, kalo belum makan ngomong juga, kalo ada masalah curhat. Kami kan saudaramu. Medi pun tidak diam berlama, lantas melontarkan pernyataan pernyataan buat menenangkan sang sahabat.

    Iyya, kita bersahabat, gak ada yang perlu di rahasiakan. 

   Aku gak ada restu dari keluarga untuk reposisi ke kediri,Ni. 

Maka diceritakannya semua kejadian beberapa hari ini kepada dua sahabatnya.

   Aku juga sebenarnya gak ada restu, lanjut Ani, tapi karier dan crewku sudah ada dasar. Jangan goyahkan motivasi dan tujuanmu Rung. Sambung Ani. 

Iyya, harus begitu,, 

    Ani dan Medy bergantian memberi motivasi. 

   Melihat Arung tiada respon, Ani masuk saja kedalam kamar, gak lama kemudian setelah berganti pakaian , dia keluar sambil membawa kopi dan cemilan.

  Buat apa mangkuk kosong dan pisau itu?

   Arung bertanya heran, karena dia melihat selain kopi dan cemilan, di antara nampan ada mangkuk kosong dan pisau dapur di bawanya, padahal tidak ada yang perlu di kupas saat itu.

  Begini saja, untuk mempererat persahabatan kita sekarang, dan apapun yang terjadi di kediri, selamanya kita bertiga tetap satu, saling membantu dan menyokong. Kita satukan darah kita bertiga di mangkuk itu dan meminumnya sebagai tanda kita bertiga satu darah dan bersaudara sekarang. 

Ani kelihatan bersemangat dengan kata katanya.

  Medi sendiri sudah faham semuanya maksud ani. Mereka menoleh kepada Arung yang masih heran dengan tingkah laku.

   Kamu takut arung? Jagoan kok takut sama darah. Canda medy. 

   Biar saya lebih dulu mengiris tanganku. Ani lantas mengambil pisau tanpa fikir panjang dari resiko kecil yang dapat ditimbulkan,. “Demi ikatan persaudaraan…

Crass..

Pisau dapur merobek ujung jari Ani, Medy kaget, arung pun terlebih lebih. Tapi Ani menganggap santai. Tetesan darahnya dari ujung jari di tuangkan kedalam mangkuk.

   Siapa lagi yang mau.  ? 

   Medy pun melakukan hal sama, dua darah sudah menyatu dalam mangkuk itu. 

  Gila!   Fikir arung. Tapi demi persaudaraan mereka, diapun bertindak. Darah pun menetes dari ujung jari telunjuknya.

  Hahahaha. Bertiga mereka tertawa dengan kenekatan yang dilakukan.

Seraya mengaduk,, Ani lantas berkata.  Mulai saat ini darah kita menyatu, dihadapan ALLAH kita telah bersaudara.

Dia lantas meminum darah campuran itu, dilanjutkan Medy dan lantas Arung menghabiskan sisanya.

  Jadi hari ini saya menjadi kakak kalian, Medi kedua dan arung terakhir.

  “Akur”. Jawab medy dan arung berbarengan.

**********

    Hari itu, sabtu . Persiapan perusahaan buat reposisi sudah rampung. Dan seluruh karyawan yang ikut sudah berkumpul. Mobil angkot yang akan mengantar mereka ke pelabuhan makassar telah siap. Satu persatu seluruh karyawan memasuki mobil, para manager dari crew masing masing pun ikut.

Ani dan Medy terlihat membawa barangnya, Arung juga sudah naik, tapi sebelum dia mengatur posisi duduknya, didengarnya seorang berteriak kepadanya..

“Arung,,, kau jangan pergi..!!

    Dalam kagetnya, Arung menoleh, dilihatnya herman sang kakak  berlari menujunya. Turun kau dari mobil itu, ikut saya ke bone. 

   Arung turun untuk menemui kakaknya, semua pandangan mata karyawan dan manager tertuju kepada kakak adik ini.

  Dengan muka berang, herman mendatangi adiknya. “Kamu, kalo bersikeras akan pergi, hari ini aku bersumpah kamu bukan lagi saudaraku.

  Dalam kaget dan sedihnya arung terdiam tanpa kata.

Arung ,,jangan dengar katanya,,  sejak tadi Rismauli melihat gelagat itu, ia lantas menyahut dan menginstrusikan arung untuk kembali ke mobil. Arung tanpa menoleh lantas naik ke mobil. 

Maafkan saya kak, saya pergi..

Baiklah, mulai hari ini kamu bukan adikku. ! Jawab herman.

Sambil meraih badik dipinggangnya, di iriskan ke pergelangan tangannya. 

Crass..  

Arung kaget, dia hendak turun, tapi beberapa rekan memegang bahunya. Saat itu mobil mereka telah melaju. Arung tetap menoleh ke kakaknya yang berdiri sambil memegang tangannya yang terluka akibat badik itu. Pandangannya tak pernah lepas, sang kakak semakin kecil terlihat dibelakang, dan sesat kemudian tak terlihat lagi.

  Arung pun menangis.

*bersambung*

*************

Iklan

Tentang dandeelion

Saya orangnya sederhana.. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakanku, sesederhana diriku. Aku selalu berfikir "biarkanlah sang pedang menebas waktu, sebab aku tak akan berdiri diam untuk dijadikan korban selanjutnya. "Jangan pernah katakan semua yang ada dalam fikiran kita, sebab jika itu terjadi maka kita dengan sendirinya telah merubah takdir kita berjalan semakin cepat". "Berlarilah secara melingkar, maka engkau akan kembali ketempatmu semula berpijak dimana di tempat itu aku selalu berdiri menunggumu dengan kedua sayapku terbuka untuk memelukmu kembali ".. "aku selalu merasa sedang berjalan di atas lengkungan pelangi, memang terlihat tapi saat aku menitinya ,aku selalu terjerembab dan jatuh" "Jika rindu dan cintaku kembali diberi kesempatan untuk menyapamu, maka sambut lah dia walau kedua sayapku yang tajam saat memelukmu membuatmu terluka "..
Pos ini dipublikasikan di Arung Wahyu dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s